“Bunda yang Rendah Hati”: Renungan, Sabtu 22 Agustus 2020

0
2721

Pw. SP Maria, Ratu (P)

Yeh. 43:1-7a; Mzm 85:9ab-10, 11-12, 13-14; Mat. 23:1-12.

Kerendahan hati selalu diajarkan kepada setiap manusia, baik dalam keluarga, sekolah atau pun dalam kegiatan pendalaman iman di Gereja. Hal itu menandakan bahwa sikap rendah hati selalu ditekankan dan diharuskan untuk dimiliki oleh setiap orang.

Dalam Injil hari ini Yesus mengecam orang-orang yang mengesampingkan kerendahan hati. Mereka adalah para ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus menyebutkan segala tindakan dari para ahli Taurat yang tidak melambangkan sikap kerendahan hati. Mereka berkata benar tentang Taurat namun mereka tidak pernah melaksanakannya. Semua tindakan mereka malah memperlihatkan sikap ketamakan, kemunafikan dan keegoisan dalam diri. Menjadi nyata bahwa, tinggi hati dapat membawa manusia dalam kesombongan dan keberdosaan.

Sahabat yang terkasih, kita hidup dalam dunia yang di dalamnya selalu ada kompetisi. Setiap orang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Hal tersebut mengartikan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kita harus saling mengalahkan. Seseorang tidak ingin berada di bawah orang lain. Demikianlah para ahli Taurat yang selalu menginginkan yang terbaik untuk diri mereka. Mereka ingin untuk selalu dipuji, disebut rabi dan disanjung, namun sikap dan tindakan mereka tidak seperti yang mereka ajarkan.

Situasi tersebut menyebabkan setiap orang sulit untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Dalam hidup sehari-hari, setiap orang memiliki kecenderungan untuk selalu ingin menang. Dalam Injil hari ini Yesus menegaskan: “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”. Perkataan Yesus kiranya menjadi suatu jaminan bagi setiap orang. Dengan demikian setiap orang tidak perlu takut untuk rendah hati sebab Tuhan menjanjikan kebahagiaan surgawi. Hal tersebut sudah terbukti dalam hidup Bunda Maria.

Hari ini kita memperingati Santa Perawan Maria sebagai Ratu Surga. Bunda Maria menjadi Ratu Surga dengan kerendahan hatinya. Walaupun sulit, ia senantiasa mendampingi Yesus sampai akhir hidup-Nya. Bunda Maria dengan rendah hati, menanggung segala perkara dalam hatinya. Ia setia memikul salib hidupnya bersama Yesus yang akhirnya terbaring kaku di pangkuannya. Bunda Maria adalah bunda yang rendah hati yang menjadi teladan seluruh umat beriman.

Bunda Maria tidak hanya mendengarkan firman Tuhan, ia melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kiranya, jaminan dari Tuhan, serta teladan Bunda Maria, selalu menjadi kekuatan bagi kita untuk selalu berusaha menjadi orang yang rendah hati dalam hidup.

(Fr. Delviano Kapele)

“Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk. 1:52).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, bantulah aku supaya selalu menjadi pribadi yang rendah hati. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini