Pw. S. Bernardus, Abbas PujG (P)
Yeh. 36:23-28; Mzm. 51:12-13,14-15,18-19; Mat. 22:1-14.
Perkawinan adalah suatu momen bahagia yang dialami oleh dua pribadi yakni suami dan istri yang telah sepakat dengan janji setia untuk hidup bersama. Dalam perkawinan, tujuan utama yang hendak dicapai ialah kebahagiaan dari kedua pribadi tersebut. Namun, suka cita kebahagiaan yang dialami kedua pribadi tersebut tidaklah lengkap jika tidak dibagikan kepada keluarga, handai taulan dan setiap orang yang menerima undangan dalam suatu pesta. Undangan sejatinya adalah sebuah panggilan, ajakan, dan tawaran untuk datang ambil bagian di dalamnya.
Perumpamaan pesta perkawinan yang hendak ditunjukkan pada Injil hari ini, hendak menunjukkan bahwa warta Kerajaan Surga dari Yesus adalah hidup yang berkelimpahan akan cinta, damai dan kebahagiaan. Allah hendak mengundang setiap orang untuk menanggapi undangan, datang dan ambil bagian dalam sukacita keselamatan. Keselamatan yang datang dari Allah pun seperti halnya perjamuan perkawinan tersebut. Tawaran cinta Allah ini diberikan kepada siapa pun juga, Ia memanggil manusia masuk dalam kepenuhan kasih-Nya melalui Yesus Kristus.
Hari ini Gereja memperingati Santo Bernardus Abbas, dan kita pun diajak untuk belajar hal berharga darinya. Ia meninggalkan huru-hara dunia dan hidup sebagai seorang pendoa. Ia dikenal luas sebagai seorang pewarta, pembawa damai dan seorang penegak kebenaran. Melalui khotbah-khotbahnya ia berjuang melawan ajaran-ajaran sesat yang selalu mengganggu Gereja pada masanya. Dengan tulisan-tulisannya ia mewujudkan semangat kerohanian umat-nya. Santo Bernardus Abbas hendak menunjukkan kepada kita bahwa pemaknaan hidup bukan diperoleh dalam kecemerlangan dan kelekatan pada hal duniawi. Tetapi kesempurnaan hidup hanyalah diperoleh dalam Tuhan sendiri.
Namun persoalannya adalah sering kali kita semua mengabaikan undangan keselamatan Tuhan ini bahkan tak tanggung-tanggung kita menolak kebaikan dan kasih Allah itu dengan berbagai alasan. Seringkali manusia sibuk dengan urusan-urusan dunia yang menjatuhkannya dari kasih Tuhan. Kesibukan inilah yang membuatnya tak mendapatkan keselamatan yang datang dari Allah. Meskipun memang kita tahu bahwa keselamatan dari Allah ini terbuka bagi semua orang, yang terpenting ialah kita harus menjadi pribadi yang pantas di hadapan Tuhan, agar kita layak diikutsertakan dalam perjamuan surgawi. Untuk itu, marilah, sebagai orang beriman yang percaya kepada Tuhan, kita jangan pernah takut menerima undangan Tuhan dalam kehidupan kita.
(Fr. Tonny Kuntag)
“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Mat. 22 : 14).
Marilah berdoa :
Ya Tuhan Yesus, buatlah aku berani terbuka untuk menjawab panggilan-Mu. Amin.











