“Teladan Maria”: Renungan, Minggu 16 Agustus 2020

0
2444

Hari Raya SP. Maria Diangkat ke Surga (P)

Why 11:19a;12:1,3-6a,10ab;Mzm 45:10bc,11,12ab;1Kor 15:20-26;Luk 1:39-56

Dalam Gereja Katolik, Bunda Maria mendapatkan tempat yang terhormat dalam karya keselamatan Allah di dunia. Ia dipilih oleh Bapa sebagai Bunda Sang Juruselamat. Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Kesucian, ketulusan, dan juga kerelaan dirinya menerima tugas sebagai Bunda Sang Juruselamat kini digenapkan dengan pengangkatannya ke dalam Kerajaan Surga bersama Kristus, puteranya.

Dalam bacaan pertama, Yohanes dalam Kitab Wahyu menggambarkan sosok Maria dalam peranannya sebagai Ibu Sang Juruselamat. Dalam penglihatannya, Yohanes melihat seorang wanita yang hendak melahirkan seorang anak yang akan menjadi penyelamat dunia. Kuasa gelap yang digambarkan dengan sosok naga berusaha untuk merampas anak itu, namun diselamatkan oleh Allah. Demikian wanita itu diselamatkan oleh Allah dan diberikan tempat yang khusus oleh Allah. Wanita itu tidak lain adalah Bunda Maria itu sendiri.

Kesaksian sebagai Bunda Sang Juruselamat ada dalam Injil hari ini. Dalam Injil, dikisahkan Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya. Elisabet tersentak, bayi dalam kandungannya pun melonjak dengan kehadiran Maria. Ia merasakan bahwa yang di hadapannya itu bukan hanya saudarinya, melainkan Ibu Sang Juruselamat. Maka tidak heranlah, ketika mendengar salam dari Maria, Elisabet kemudian memuji Maria sebagai Ibu Sang Juruselamat. Namun di satu sisi, Maria tidak merasa hebat, melainkan ia menunjukkan kerendahan hatinya. Kidung Maria yang kita dengarkan dalam Injil tadi adalah bukti kerendahan, kesederhanaan, dan juga kerelaannya menerima tugas yang berat dari Allah. Maria tidak meninggikan dirinya, ia mau berbagi dengan sesamanya, tetapi juga ia menyerahkan itu semua sebagai suatu bentuk kebesaran Allah.

Kesederhanaan, kesucian, dan kemurnian Bunda Maria itulah yang menjadikan dirinya dipilih oleh Allah. Ia rela memangku tugas yang berat itu. Dengan itu semua sudah selayaknya juga Allah menempatkan Maria di tempat yang kudus bersama diri-Nya,

Saudara terkasih, kadang ketika kita berada di posisi yang tinggi atau dipuji karena kesuksesan, kita sering merasa tinggi hati. Ketika karir dalam hidup kita sudah ada di puncak, kadang kita mulai lupa diri. Kita lupa untuk mensyukuri rahmat yang sudah diberikan oleh Tuhan dalam hidup kita. Kita lupa bahwa kebahagiaan yang kita peroleh sumbernya dari mana. Hari ini Maria diangkat ke Surga, bukan karena ia sukses sebagai orang hebat, melainkan karena keteladanan yang ditunjukkan oleh Maria, yakni taat kepada Bapa, solider dengan sesamanya, dan tidak lupa bersyukur kepada Allah.

(Fr. Dkn. Angelo Ch. Tanod)

“Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk. 1:48).

Marilah berdoa:

Bunda Maria, ajarlah kami taat kepada Bapa seperti dirimu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini