Pw. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja (P)
Yes. 10:5-7, 13-16; Mzm. 94:5-6, 7,8 ,9-10, 14-15; Mat. 11:25-27
Sadarkah kita bahwa hidup adalah sebuah anugerah? Bahwa sampai sekarang ini, kita masih bisa bernafas karena kemurahan kasih Allah? Mensyukuri sesuatu yang tidak berkenan dalam hidup merupakan hal yang bodoh bagi mereka yang tidak percaya. Apalagi jika disarankan untuk bersyukur kepada Tuhan. Kita sering susah bersyukur karena merasa apa yang kita inginkan tidak terkabul sehingga sampai pada pemikiran, bersyukur bukan hal yang penting. Orang-orang sederhana dan terpinggirkan biasanya lebih mudah untuk mengucap syukur, serta melihat pengalaman hidup mereka merupakan suatu kebaikan dan anugerah Tuhan.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan dua hal penting bagi kita, yakni sadar akan siapa diri kita dan berani mengucap syukur. “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Mat. 11:25-26). Perkataan Yesus ini mau menegaskan kepada kita, bahwa mengucapkan syukur bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Jangan pernah merasa bahwa Tuhan meninggalkan dan tidak memperhatikan umat-Nya ketika mereka hidup susah atau diperhadapkan dengan segala cobaan. Sekali lagi, tidak! Tuhan selalu dan senantiasa menyertai umat-Nya dalam segala situasi dan kondisi hidup. Manusia hanya perlu membuka diri dan hati untuk Tuhan sehingga dapat merasakan bahwa kasih Allah itu nyata.
Yesus mengenal identitasnya bahwa Dia memiliki kesatuan dengan Allah Bapa. Oleh karena itu, Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya. Bapa dan Putera saling mengenal satu sama lain. Hal ini mengungkapkan sebuah relasi yang sangat erat dan intim antara Bapa dan Putera. Yesus bersyukur kepada Bapa karena Dia mendapatkan perutusan untuk menyelamatkan umat manusia. Pertanyaan refleksi bagi kita semua, sebagai pengikut Kristus, sudahkah kita menjalin keakbraban dengan Kristus? Sudahkah kita menjalin keakraban dengan sesama kita yang miskin dan terpinggirkan? Atau kita lebih senang menjalin keakraban dengan orang kaya dan terpelajar? Mengutip kata-kata St. Bonaventura: “Kesombongan biasanya menggilakan manusia, karena ia diajar untuk meremehkan apa yang sangat berharga seperti rahmat dan keselamatan, dan menjunjung tinggi apa yang seharusnya dicela seperti kesia-siaan dan keserakahan.”
(Fr. Michael Mefri Kewo)
“Sebab Tuhan tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya” (Mzm. 94:14).
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, ajarlah kami untuk senantiasa mengucap syukur. Amin











