“Identitas Berhikmat”: Renungan, Senin 21 Mei 2018

0
3008

Hari Biasa (H)

Yak 3:13-18; Mzm 19:8,9,10,15; Mrk 9:14-29

 

Hal terpenting bagi setiap orang untuk dikenal atau dipercaya, sangat tergambar dari identitas dirinya ketika bersosialisasi dengan sesama. Jati diri yang sejati adalah ketika ia mampu tampil dan menampakkan identitasnya. Seorang guru yang sejati akan tahu saat mana ia diperlukan untuk meyakinkan muridnya untuk berkembang.

Ia sadar bahwa tak selamanya para murid akan bergantung pada dirinya. Ia sendiri dengan tahu dan mau siap melakukan apa yang menjadi hal terpenting dan berguna, ketika ia diperhadapkan pada persoalan atau kekhawatiran. Sehingga, ketika seseorang menyadari identitasnya berhikmat, ia akan melakukan dan menyadari apa yang bisa dan tidak serta berusaha menemukan solusi demi perkembangan kualitas dirinya.

Bacaan-bacaan hari ini menyadarkan kita akan pentingnya membangun identitas yang berhikmat itu. Hal ini tentu menjadi penting, karena dalam hidup ini akan ada saat kita merasa putus asa dan bimbang dengan semua tindakan kita. Oleh sebab itu, keyakinan identitas berhikmat menjadi cara Allah menyapa kita. Ia sesungguhnya berusaha meyakinkan manusia untuk percaya kepada-Nya.

Namun sikap manusiawi kita sering membuat kita jatuh karena kurang percaya dan beriman. Bahkan identitas para murid yang disebut pengikut Yesus saja bisa sedikit memudar karena tidak bisa mengusir setan. Kita pun sebenarnya disebut orang yang kurang percaya, kalau kita sungguh-sungguh tidak menyadari identitas diri sebagai orang beriman dan berusaha memberi keyakinan itu pada taraf yang besar.

Maka bagi Yesus, ada dua hal untuk meyakinkan diri sebagai orang beriman yang percaya dan berhikmat. Hal pertama, kita diajak meningkatkan kepercayaan kepada-Nya dan berusaha meyakinkan kepercayaan itu lewat tindakan nyata. Ciri-ciri orang berhikmat adalah pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasih dan tidak munafik. Hal kedua adalah kita diajak mengembangkan hidup doa kita.

Sebab, tanpa kita sadari doa dapat mengubah segala sesuatu. Hal inilah yang membantu kita meyakinkan apa yang kita imani ketika kita diperhadapkan pada situasi sulit sekalipun. Sehingga seseorang disebut memiliki identitas berhikmat ketika ia sanggup meyakinkan diri dalam hidup bersama melalui sabda dan doanya.

Bagi Yakobus hal itu bisa meyakinkan identitas diri kita, kalau kita sungguh hidup dalam kebenaran dari Allah dan bukan dari kepentingan diri kita sendiri. Sebab, buah dari seorang yang memiliki identitas diri berhikmat adalah buah yang mendamaikan.

(Fr. Edward Salilo)

 

“Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” (Mrk. 9:23b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami agar tetap setia menjadi pengikut-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini