“Ikutlah Aku”: Renungan, Sabtu 19 Mei 2018

0
3507

Hari Biasa Pekan VII Paskah (P)

Kis. 28:16-20, 30-31; Mzm. 11: 4,5,7; Yoh. 21:20-25

Sudahkah kita menanggapi undangan Yesus “Ikutlah Aku?” Kita semua sudah menanggapi undangan dari Yesus, karena kita telah memberi diri untuk dibaptis. Pertanyaannya apakah kita setia kepada Yesus? Dengan rahmat pembaptisan yang diterima kita semua dipanggil untuk turut ambil bagian dalam mewartakan Injil. Kita dipanggil untuk mewartakan Sabda Tuhan di tengah-tengah dunia yang penuh dengan tantangan dan cobaan.

Bacaan pertama mengisahkan tentang kunjungan Rasul Paulus di Roma. Rasul Paulus sangat gigih dalam mewartakan Kristus. Tidak ada rasa takut sedikit pun dalam dirinya untuk mewartakan Kristus. Kendati dituduh berbuat salah, Paulus tidak merasa berputus asa dan mundur. Pada gilirannya ternyata hal itu tidak terbukti. Hanya saja orang Yahudi yang tidak menyukainya berusaha untuk menentangnya.

Paulus sebagai pengikut Kristus yang setia tidak mau berdiam diri. Ia dengan terpaksa mengajukan banding atas tuduhan tersebut. Atas upaya inilah Paulus berbicara dengan orang Yahudi di Roma. Ia mewartakan Yesus. Ternyata ada yang percaya pada perkataannya dan ada yang tidak percaya sama sekali. Ajakan untuk percaya dan mengikuti Yesus begitu beragam.

Bacaan Injil secara jelas berbicara tentang Yesus yang meminta Petrus untuk mengikuti-Nya. Ketaatan Petrus kepada Yesus merupakan bentuk pengungkapan iman yang mendasar.  Kendati demikian rupanya ada sedikit kecurigaan yang muncul dari hati Petrus. Namun Yesus berkata, “Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau ikutlah Aku”.

Bacaan-bacaan hari ini, teristimewa bacaan Injil, mengajak kita untuk datang mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh. Sebab kita seringkali mencari-cari alasan untuk tidak mengikuti-Nya atau pun untuk tidak taat pada-Nya.

Kita diminta dengan hati yang terbuka dan rela untuk berkurban bagi sesama. Karena menjadi pengikut Kristus haruslah berani untuk berkurban. Selanjutnya kita juga diminta untuk tetap setia pada Yesus. Sebab di dalam Dialah kita dapat hidup. Dalam Dia ada sukacita dan kegembiraan yang akan selalu menyelimuti hidup kita.

Sikap mencari-cari alasan untuk lari dari tanggung jawab adalah bentuk penyangkalan akan kemurahan dan kebaikan Allah. Rasul Paulus telah menunjukkan bahwa kesulitan dan tantangan dalam hidup bukanlah alasan untuk menyerah lalu kemudian mencari-cari alasan supaya menghindari tanggung jawab.

Justru sebaliknya, sikap taat dan setia, haruslah menjadi kekuatan utama dalam hidup. Percaya kepada Yesus harus pula disertai dengan tanggapan ya akan panggilan-Nya. Dengan demikian kita dimampukan untuk mewartakan Sang Sabda Kehidupan.

(Fr. Marianus Hiwin)

“Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau ikutlah Aku” (Yoh. 21: 22b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga aku selalu setia mengikuti-Mu pada panggilan suci ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini