“Kasih bukan Kata”: Renungan, Jumat 18 Mei 2018

0
3028

Hari Biasa Pekan VII Paskah (P)

Kis.25:13-21; Mzm.103:1-2,11-12,19-20; Yoh.21:15-19

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang percakapan Yesus yang telah bangkit dengan Simon Petrus, murid-Nya. Dalam perjumpaan itu, sebanyak tiga kali Yesus meminta tanggapan Petrus tentang kasih-Nya kepada Yesus. “Simon, anak Yohanes, apakah Engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Simon Petrus menjawab: “ Benar Tuhan, Engkau tahu aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Begitulah, ungkapan Yesus dalam percakapan-Nya dengan Petrus. Namun, pada ungkapan yang ketiga, Petrus sedih dan berkata, “Tuhan, Engkau tahu segalanya, Engkau tahu bahwa Aku mengasihi Engkau.” Ungkapan yang terakhir ini sesungguhnya memuat suatu keyakinan dari kata-kata Simon Petrus sendiri, bahwa ia sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Perkataan Yesus selanjutnya tetap sama, “Gembalakanlah domba-domba-Ku”.

Sebuah ungkapan yang mengarahkan Petrus pada tugasnya nanti, sebagai seorang gembala. Gembala yang senantiasa harus menjaga kawanan dombanya dari terjangan binatang buas, dan yang harus selalu menuntun mereka ke padang rumput yang hijau, serta ke air yang tenang. Sama seperti yang kita ketahui tentang seorang gembala yang baik.

Pekerjaan demikian tentunya memperlihatkan bagaimana Petrus sungguh-sungguh dapat mengungkapkan kasihnya kepada Tuhan, yang bukan hanya sekedar sebuah kata-kata saja “aku mengasihi-Mu”, melainkan tindakan yang nyata.

Hal menarik yang dapat kita ambil dari Injil hari ini, yakni bagaimana Yesus memastikan apakah Petrus sungguh-sungguh mengasihi-Nya dan bersedia mengerjakan pekerjaan yang Ia berikan kepadanya. Pernyataan Petrus bahwa ia mengasihi Tuhan, memperlihatkan pula bagaimana Petrus menanggapi maksud Yesus yang sementara serius memanggilnya untuk tugas kegembalaan.

Hal serupa dapat kita lihat pula dalam tugas perutusan kita sebagai murid Tuhan. Kita memandang diri kita sebagai pengikut Kristus. Kita menyadari bahwa sebagai pengikut-Nya, kita seharusnya mencintai atau mengasihi Dia yang kita percayai sebagai Tuhan dan Penyelenggara di dalam kehidupan kita.

Sekarang, apakah kita hanya dapat mengungkapkan kata “aku mengasihi Engkau” lewat mulut kita, yang hanya sekedar kata-kata saja? Kita semua menyadari bahwa kasih atau cinta itu perlu dinyatakan dan bukan hanya diungkapkan lewat kata-kata saja. Tentu saja, menyatakan ungkapan kasih kita kepada Tuhan dapat kita lakukan dengan banyak cara. Tuhan sendiri kehendaki supaya kita membuktikan kata-kata kita lewat apa yang kita lakukan terhadap sesama kita demi kemuliaan nama-Nya.

(Fr. Koresh Lila)

“Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:17b).

 Marilah berdoa:

Tuhan, semoga aku selalu mampu menyatakan kasihku kepada-Mu, lewat karya dan pelayananku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini