Harian Biasa IV Paskah (P)
Kis. 11:1-18; Mzm. 42:2-3;43:3,4; Yoh. 10:11-18.
Kesetiaan merupakan sesuatu yang mudah di ungkapkan namun sulit untuk diterapkan dalam kehidupan. Dari sebuah pernyataan ini serentak membuka wawasan untuk bagaimana seorang akan mengartikan kesetiaan yang sebenarnya yang selalu ada dalam kehidupannya. Dalam mengartikan kesetiaan tentunya, setiap orang memiliki perbedaan paradigma sesuai dengan apa yang mereka hadapi dan rasakan dalam kehidupan harianya.
Dalam bacaan pertama dengan baik mengisahkan tentang Petrus yang tiba di Yerusalem dan orang-orang dari golongan bersunat berselisih pendapat dengannya. Menghadapi situasi itu, Petrus lantas mengisahkan apa yang sudah ia alami ketika memberitakan kabar sukacita injil kepada bangsa lain. Petrus merupakan sosok atau figur untuk mengambil sebuah makna dalam pengalamannya. Dia dengan sabar dan setia memberitakan apa yang telah dialaminya sehingga akhirnya orang-orang dari golongan bersunat yang sudah berselisih dengan dia menjadi sadar dan menjadi tenang lalu memuliakan Allah katanya “jadi kepada bangsa-bangsa lain pun Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”.
Dalam bacaan injil, rasul Yohanes dengan jelas mengisahkan tentang seorang gembala yang baik, yang menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya. Yesus merupakan seorang figur gembala yang baik. Hal itu dipraktekkan dalam kehidupan-Nya: mewartakan dan membuat banyak mujizat, dan itu semua terjadi karena kesatuan erat Yesus dengan Bapa. Sebagai figur penting, Yesus juga diperhadapkan pada problem hidup. Ia berhadapan dengan orang-orang farisi yang terus menerus menentang apa yang ia ajarkan. Namun sikap Yesus dengan sebuah pernyataan yang mengungkapkan bahwa kesatuan Dia dengan Bapa merupakan sesuatu yang tak dapat dipisahkan membuat problem berakhir.
sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus, kita hendak diajak untuk memberikan diri seutuhnya atas karya-Nya dalam kehidupan kita. Kisah Petrus akan membuka wawasan kita untuk melihat begitu besar perhatian Allah bagi kita. Juga, seperti apa yang sudah Tuhan lakukan dalam kisah-Nya bahwa kesetiaan-Nya kepada Bapa membuat Dia tak bisa dipisahkan dan memperoleh tugas yang mulia. Untuk menanggapi kisah Yesus yang setia bagi Bapa, hendak menjadi dasar bagi kita untuk berusaha menjadi pribadi yang sabar dan belajar untuk selalu taat dalam segala kehidupan baik itu rohani maupun jasmani.
( Fr. Jansen Buarlely)
“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku” (Yoh 10:14)
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, jadikanlah aku pribadi yang sabar dan belajar untuk setia. Amin











