“Peduli”: Renungan, Jumat 24 april 2020

0
2287

Hari Biasa Pekan II Paskah (P)

Kis. 5:34-42; Mzm. 27:1,4,13-14; Yoh. 6:1-15

Kepeduliaan atau kepekaan menjadi satu poin atau nilai yang sangat penting dalam kehidupan kita. Sebab dengan menanamkan sikap kepeduliaan atau kepekaan terhadap keadaan yang ada, percaya atau tidak, hidup kita pasti bahagia. 

Saudara-saudari yang terkasih, Tuhan Yesus senantiasa peduli dan peka terhadap keadaan yang ada. Dalam injil dijelaskan, bagaimana Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang yang datang berbondong- bondong kepada-Nya dalam keadaan lapar hanya dengan lima roti dan dua ikan. Apa  yang dikatakan dalam injil Yohanes hari ini juga menampilkan sikap kepedulian dan kepekaan. Dikatakan bahwa ketika melihat orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya berkatalah ia kepada Filipus “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Dengan pertanyaan ini mau mengatakan bahwa Tuhan Yesus sangat peduli atau peka terhadap keadaan yang ada. Ia tergerak belas kasihan melihat orang banyak yang datang kepada-Nya itu dalam keadaan lapar.

Karena rasa kepedulian-Nya, Ia membuat  mujizat yang sangat menakjubkan yakni memperbanyak roti dan dua ikan.  Dikatakan dengan jelas bahwa setelah Ia mengambil itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. Dengan kuasa-Nya, lima roti dan dua ikan pun dapat mengenyangkan lima ribu orang  yang ada disitu; bahkan makanan tersebut tersisa tuju bakul. Sesuatu yang sulit bahkan tidak mungkin bagi kita manusia, namun sangat mungkin bagi Tuhan.

Saudara-saudari yang terkasih, apa yang diperbuat oleh Tuhan Yesus pada hari ini, mengajarkan kepada kita sekalian bahwa dalam menjalani aktivitas kehidupan kita setiap hari, kita hendaknya menanamkan sikap peduli dan peka terhadap keadaan yang ada di sekitar. Dan dengan tangan terbuka untuk senantiasa membantu teman, saudara atau siapa saja yang dalam berkekurangan dan sangat membutuhkan kita. Sebab melihat realitas yang ada orang acap kali bersifat acuh tak acuh terhadap keadaan yang ada. Dengan mempunyai satatus jabatan yang tinggi, orang merasa gengsi bahkan merasa diri mereka rendah  jika menolong orang yang sedang dalam berkesusahan. Hari ini kita semua diajak peduli dan peka dengan orang lain agar kelak kita memperoleh kebahagiaan kekal di surga.

(Fr. Wandilinus Gleko)

“Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dunia” (Yoh 6:14)

 Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami peka dan peduli akan orang lain. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini