“Percaya atau tidak percaya”: Renungan, Selasa 21 April 2020

0
1768

Hari Biasa Pekan II Paskah (P)

Kis. 4:32-37; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Yoh. 3:7-15

Sering kali kita mendengar pertanyaan Mengapa Yesus harus disalibkan dan mati? padahal katanya Dia adalah Tuhan. Tuhan kok mati? Mungkin banyak dari kita tidak mampu menjawab mengapa Yesus harus mati, dan bagaimana cara menjelaskannya. Betapa sulitnya kita memahami betapa Allah harus melakukan penebusan lewat jalan penderitaan dalam dunia ini.

Bacaan yang kita dengarkan hari ini, hendak mengulang pertanyaan-pertanyaan kita. Bahkan Yesus menjawab dengan bertanya kembali kepada kita seperti dikatakan-nya kepada Nikodemus: “kamu tidak percaya, waktu aku berkata-kata tentang hal-hal duniawi. Bagaimana kamu akan percaya kalau aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal surgawi?.” Begitulah Yesus menjawab, yang menggambarkan bagaimana mungkin kita percaya hal-hal surgawi jikalau cara-cara yang bersifat duniawi saja kita tidak percaya. Sebenarnya kalau kita renungkan dengan sungguh-sungguh, Tuhan senantiasa berkarya dalam hidup kita. Tuhan sering membantu kita melalui kehadiran orang lain atau melalui kejadian-kejadian tertentu. Bahkan dalam situasi sulit yang tidak kita duga, Tuhan pun membantu kita. Maka kita tidak perlu menyangsikan lagi bahwa Tuhan selalu baik kepada umat-Nya termasuk pada diri kita masing-masing. Yang penting adalah kepekaan kita. Percaya akan kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita.

Sering kali kita lebih banyak menuntut tanda ketimbang percaya. Padahal tanda-tanda duniawi sudah menampakkan kemuliaan Allah. Yesus adalah wujud dari tanda terbesar dari Allah kepada kita, meskipun kehadiran Yesus dengan cara manusiawi malah menjadi pertentangan. Yesus adalah jalan dimana kita boleh mengenal Allah. Seperti ditegaskan Yesus sendiri bahwa “ Tidak ada seorangpun yang telah naik ke Surga selain daripada Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dari sini jelas bahwa kita harus menerima Kristus dalam hidup kita, karena sebenarnya hal itu sangat menentukan hidup kita. Kita akan selalu dapat melihat kehendak Tuhan. Sama seperti kalau kita mau menerima pemimpin, maka kita mau untuk dipimpin. Tuhan adalah pemimpin sejati dalam hidup kita. Hanya, apakah kita percaya kepada-Nya atau tidak?

(Fr. Paschal Jaftoran)

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh 1:12).

Marilah Berdoa:

Ya Allah melalui Yesus putera-Mu, ajarlah Kami untuk dapat percaya dan memahami semua kehendak-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini