HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN (P)
Kis. 10:34a,37-43; Mzm. 118:12,16ab-17,22-23; Kol. 3:1-4; atau 1Kor. 5:6b-8; Mat. 28:1-10.
Fajar menyingsing. Tanda hari baru. Harapan baru. Kemungkinan baru.
Murid-murid Yesus tak sabar menanti hari ini. Untuk melihat Sang Matahari terbit. Tanda nyata terlihat. Harapan besar terbuka. Sukacita sempurna dialami. Melihat Yesus bangkit dengan jaya! Mengalahkan dosa dan maut. Ketidakadilan dan kebencian. Ketakutan dan ketidakpercayaan.
Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi ke kubur Yesus dengan penuh harapan itu. Dan betul! Tanda-tanda harapan itu muncul. Ada gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit. Malaikat itu datang dan menggulingkan batu penutup makam. Kemudian dia duduk di atas batu itu. Wajah utusan Tuhan itu bagaikan kilat. Pakaiannya putih bagaikan salju. Luar biasa! Tak heran para penjaga makam menjadi ketakutan dan seperti orang-orang mati.
Malaikat itu sendiri berkata: “Janganlah kamu takut. Sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu”. Pastilah kedua perempuan itu senang. Tapi malaikat itu mengatakan bahwa Yesus tidak ada di situ. Ia telah bangkit seperti yang dikatakan-Nya. Tapi mengapa Yesus yang bangkit tak terlihat mata? Mengapa malaikat itu mengatakan bahwa mereka harus pergi memberitahukan itu kepada para murid Yesus? Mengapa Yesus nanti memperlihatkan diri-Nya di Galilea? Mengapa tidak ada bukti sekarang ini selain kubur yang kosong dan kata-kata sang malaikat?
Tapi kedua wanita itu akhirnya pergi. Mengikuti perkataan malaikat itu. Dan justru, pada saat yang tak mereka sangkakan, Yesus menampakkan diri kepada mereka. “Salam bagimu”, demikian Yesus yang bangkit menyapa mereka. Betapa bersukacitanya mereka. Mereka dapat melihat Yesus. Mereka mendengar suara-Nya. Tak heran mereka memeluk kaki-Nya dan menyembah-Nya.
Yesus sendiri memerintahkan mereka: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku”.
Sebagai manusia, kita mendambakan bukti nyata. Terlihat, terdengar, atau tersentuh. Tuhan sendiri memberikan bukti kebangkitan-Nya kepada kedua wanita di atas. Tapi bagaimana dengan kita? Yang tidak melihat bukti nyata? Seorang yang bernama Anselmus dari Canterburry berkata: Credo ut intelligam, Aku percaya supaya aku mengerti. Banyak kali orang justru berpikir sebaliknya: Intelligo ut credam, aku mengerti supaya aku percaya. Percaya mengandaikan suatu kekuatan. Kekuatan untuk meyakini apa yang dialami dan diteruskan oleh orang lain. Inilah kekuatan yang mesti ada dalam Gereja. Tanpa kekuatan ini, tak bergunalah seluruh kesaksian Gereja yang telah melihat karya-karya Yesus dan bukti-bukti kebangkitan-Nya. Dalam arti ini, percaya bukanlah suatu perbuatan orang pengecut, lemah, atau tidak berakal sehat. Sebaliknya, percaya membutuhkan kekuatan iman dan melibatkan seluruh daya insani kita.
(P. Ventje Felix Runtulalo, Pr)
“Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku” (Mat. 28 :10).
Marilah berdoa :
Ya Yesus, berikanlah aku kekuatan iman dan gerakkanlah seluruh daya insaniku untuk mempercayai seluruh kesaksian Gereja yang diwariskan kepada kami. Amin.











