“Gila Hormat”: Renungan, Kamis 23 Januari 2020

0
3103

Hari Biasa (H)

1Sam. 18:6-9; 19:1-7; Mzm. 56:2-3,9-10a,10bc-11,1213; Mrk. 3:7-12

            Ada dua orang anak laki-laki yang berumur 17 tahun yang sudah lama berteman. Mereka berdua sangat dekat, bahkan seperti saudara kandung. Ketika mereka berada di sekolah dan mengikuti ujian, ada sesuatu hal buruk yang terjadi di antara mereka berdua. Yang membuat mereka bertengkar setelah menerima hasil ujian dan mengetahui, bahwa satu dari mereka berdua mendapat nilai tertinggi serta mendapat pujian. Sedangkan yang lain mendapat nilai yang rendah. Karena itu timbullah kebencian di antara kedua anak tersebut. Anak yang mendapat nilai rendah tersebut tidak terima kalau temannya mendapatkan pujian.

            Perumpamaan di atas dapat kita lihat pada bacaan pertama pada hari ini. Bacaan pertama menceritakan Saul yang menbenci Daud. Saul membenci Daud karena Saul tidak bisa terima suatu pernyataan yang dibuat oleh perempuan-perempuan dari segala kota yang menyongsong Daud dengan tari-tarian, bahkan dengan berbagai macam alat musik dan nyanyian yang berbalasan, yaitu: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa”. Maka timbullah amarah dari Raja Saul, ketika mendengar pernyataan tersebut.

            Dalam Injil hari ini Yesus mau mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi orang yang baik dan rendah hati. Yesus dan murid-murid menyingkir ke danau karena ada banyak orang mengikuti mereka, yaitu dari Galilea, Yudea, Yerusalem, Idumea dan masih banyak lagi. Orang-orang tersebut mengikuti Yesus, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan Yesus, yakni menyembuhkan orang. Maka semua penderita penyakit berdesak-desakan untuk memperoleh kesembuhan dengan hanya menjamah-Nya. Dari hal tersebut, Yesus sangat dikagumi dan dipuji banyak orang. Tetapi Ia melarang mereka dengan keras untuk tidak memberitahukan siapa Dia.

            Dari Injil hari ini, Yesus mau mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi orang baik dan rendah hati. Bukan orang yang gila hormat. Tanpa menunggu ada pujian dan ada orang yang mengagumi kita, barulah kita berbuat suatu hal yang baik. Maka dari pada itu Yesus mengajak kita semua untuk melakukan kebaikan kepada sesama yang ada di sekitar kita tanpa memikirkan penilaian yang akan diberikan oleh orang-orang di sekitar kita.

(Fr. Dandi Papoto)

“Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia” (Mrk. 3:12).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarilah hamba-Mu ini untuk tahu mengasihi sesama. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini