“Iman dan Ketaatan”: Renungan, Senin 9 Desember 2019

0
3014

Hari Raya Santa Perwan Maria Dikandung Tanpa Noda (P)

Kej. 3:9-15,20; Mzm. 98:1,2-3bc,3bc-4; Ef. 1:3-6,11-12; Luk. 1:26-38.

Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria dikandung tanpa noda dosa asal. Sejarah Gereja juga mencatat bahwa empat tahun setelah pengajaran yang diberikan oleh Paus Pius IX ini, Bunda Maria menampakan diri di Lourdes (di grotto Massabielle)  selama 18 kali kepada Bernadette Soubirous, seorang gadis desa yang waktu itu berumur 14 tahun. Penampakan tesebut telah diakui oleh Gereja Katolik sebagai penampakan yang otentik. Dalam penampakan itu (penampakan ke-16), Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai “Perawan yang dikandung tanpa noda dosa.”

St. Paulus dalam bacaan hari ini mengajak kita agar terarah kepada kekudusan.  Di dalam Yesus, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih yakni Yesus Kristus, Allah telah menentukan kita menjadi anak-anak-Nya. Dan Bunda Maria adalah model atau sosok kekudusan itu sendiri. Ia dikandung tanpa noda karena jasa Yesus Kristus.

Dalam bacaan Injil hari ini ditegaskan bagaimana sikap kekudusan yang dibangun di dalam diri Maria. Ketika mendengarkan kabar dari malaikat Gabriel, sebagai manusia biasa Maria merasa ragu-ragu. Namun dalam keraguan itu malaikat memberikan peneguhan dan kekuatan kepadanya, “Jangan takut hai Maria sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk 1:30).

Yang nampak di dalam diri Maria adalah iman dan ketaatan akan Allah. Iman Maria, ia tunjukkan dalam sikapnya di mana semua peristiwa Yesus selalu diterima dengan iman. Ia menyimpan semua perkara di dalam hatinya. Dan mengenai ketaatan, Maria tetap memelihara iman yang Allah berikan kepadanya secara cuma-cuma. Iman ini membantu Maria untuk taat dan menerima semua kehendak Allah di dalam dirinya.

Sebagai seorang Katolik yang mengimani Maria sebagai Bunda yang dikandung tanpa noda, kita dipangggil kepada kekudusan. Untuk mencapai kekudusan, kita diajak untuk belajar dari sikap Maria, yakni iman dan ketaatan. Iman dan ketaatan tersebut sangat melekat dan nampak dalam kehidupan Maria. Selama hidup dalam mendampingi Putranya Yesus Kristus hingga di kayu salib. Kita juga hendaknya tetap setia dalam iman kekatolikan sampai akhir hidup.

(Fr. Aloisius Wazi)

“Seseungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanMu itu” (Luk. 1:38).

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga kami selalu setia dalam iman dan tetap taat pada kehendak-Mu agar kami bisa menjadi orang kudus di hadapan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini