“Menjadi Pewarta”: Renungan, Selasa 3 Desember 2019

0
3066

Pesta S. Fransiskus Xaverius, Im (P)

1Kor. 9:16-19,22-23; Mzm. 117:1,2; Mrk. 16:15-20

Menjadi pewarta persaudaraan dan damai, keadilan dan kebenaran adalah juga panggilan kita kaum beriman. Dalam bacaan-bacaan hari ini diuraikan kepada kita beberapa perihal bagaimana menjadi pewarta sedemikian.

Pertama, menjadi seorang pewarta tidaklah harus populer layaknya menjadi artis ternama. Paulus mengisahkannya dengan jelas bahwa Dia mewartakan Injil bukan untuk memegahkan diri. Sebab mewartakan adalah suatu keharusan. Artinya menjadi seorang pewarta bukan semata-mata untuk mencari popularitas diri sendiri, tetapi mempopularitaskan ajaran Yesus, yaitu firman-Nya.

Kedua, menjadi pewarta bukan sekedar tugas atau kewajiban biasa tetapi telah menjadi bagian hidup dari setiap umat beriman. Sebab, Roh Allah bersemayam dan mengobarkan hati setiap umat beriman untuk mewartakan. Maka setiap pewarta menjadi penyambung lidah Allah dan menjadi saluran keselamatan Allah.

Ketiga, menjadi pewarta hendaknya didasari semangat melayani bukan untuk dilayani. Sebagaimana pelayanan yang Yesus tunjukkan; melayani tanpa batas; hingga wafat di salib. Sehingga kiranya menjadi pewarta berarti siap menjadi pelayan atau hamba, yakni “Servus Servorum Dei”.

Keempat, menjadi pewarta haruslah sungguh-sungguh berkorban. Artinya, berani keluar dari zona nyaman dari dalam diri untuk menghadapi pelbagai tantangan situasi zaman. Sebagaimana pengorbanan yang Yesus tunjukkan hingga wafat-Nya di salib; tanpa memikirkan dirinya semata, tetapi demi cintanya bagi banyak orang.

Kelima, menjadi seorang pewarta bukan soal upah duniawi. Sebab upahnya ialah mewartakan Injil, supaya ia mendapatkan bagian di dalamnya, yakni jaminan keselamatan. Makanya Markus dan pemazmur menegaskan pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil. Sebab dengan pewartaan, setiap orang yang menerima pewartaan bisa mengambil bagian di dalamnya.

Namun menerima saja belum cukup, Yesus mengharapkan lebih, supaya kita percaya kepada-Nya yakni dengan memberi diri dibaptis. Itulah sebabnya dengan sakramen baptis, kita dimeteraikan dengan Roh Allah sebagai anak Allah dan pewarta karya keselamatan Allah.

Demikian perkataan St. Fransiskus, apa gunanya saya memperoleh dunia, tetapi kehilangan jiwanya. Sehingga pewartaan baginya merupakan kunci untuk tidak kehilangan jiwanya, tetapi memperoleh keselamatan. Akhirnya menjadi pewarta sungguh menghantar kita pada buah sukacita. Lantas maukah kita menjadi pewarta?

(Fr. Itho Gerhani Silap)

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil” (Mrk. 16:15).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, pakailah hidupku sebagai pewarta sabda-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini