“Kasih”: Renungan, Jumat 04 Mei 2018

0
2251

Hari Biasa Pekan V Paskah (P).

Kis. 15:22-31; Mzm. 57:8-9,10-12; Yoh. 15:12-17.

Realitas sehari-hari menyatakan bahwa kasih itu tidak selamanya dimengerti secara sama. Bagi anak-anak saling memberi dalam bentuk barang itu adalah bukti tanda kasihnya kepada teman atau sahabatnya. Hal ini berbeda di kalangan remaja dan dewasa. Bagi mereka kasih adalah pemberian barang yang disertai dengan perasaan. Jadi tidak diberikan begitu saja tanpa adanya sebuah pertimbangan melainkan disertai dengan pertimbangan dan perasaan. Pada tingkatan lain, bagi kaum dewasa, kasih tidak hanya dimengerti sebagai pemberian barang dengan pertimbangan dan perasaan, tetapi lebih dari pada itu yaitu disertai dengan hati nurani.

Kasih dalam tiga tingkatan manusia mengandung sedikit perbedaan. Pada tingkatan anak-anak kasih itu hanya diukur berdasarkan pemberian. Pada tingkat remaja, kasih diukur berdasarkan barang dan perasaan. Sedangkan pada tingkat orang dewasa, kasih diukur berdasarkan pemberian diri secara total dengan tidak mengabaikan suara hati.

Dalam Injil Yesus mengatakan: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya”. Tingkatan kasih sampai pada hati nurani pun itu belum cukup bagi seorang Kristiani. Tapi apakah Yesus menghendaki suatu kematian karena kasih kepada sesama? Tentu tidak!

Kasih Kristiani telah ditunjukkan oleh para Rasul. Kesalahpahaman antara jemaat di Yerusalem dan jemaat di Antiokhia didamaikan oleh kasih. Kasih tidak berasal dari para Rasul di Yerusalem atau para Rasul di Antiokhia, melainkan kasih itu berasal dari Yesus sendiri. Yang mau ditonjolkan di sini yakni kasih dalam bentuk keterbukaan, saling menerima dan bisa dinyatakan dalam kehidupan harian. Berarti bahwa kasih itu tidak hanya dalam bentuk perasaan dan pemberian tetapi yang utama adalah kesungguhan dan pemberian diri secara total.

Dalam rangka itu, kita masing-masing adalah pelaku dan juga pelaksana kasih itu. Apakah kita dapat melakukan kasih dengan kesungguhan? Dapatkah kita menjadi pelaku kasih dalam kehidupan setiap hari? Kita dapat menjadi pelaku kasih, apabila kita berani untuk berkurban dan menyerahkan diri secara total bagi sesama dan Tuhan. Semoga sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus yang kita rayakan dengan sungguh mulia memampukan kita untuk menjadi pelaku dan pembawa kasih bagi sesama kita.

(Fr. Andi Titirloloby)

 

“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”(Yoh. 15:13).

 Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk dapat saling mengasihi satu dengan yang lain. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini