“Modal dan Masa Depan”: Renungan, Rabu 20 November 2019

0
2459

Hari Biasa (H)

2Mak. 7:1,20-31; Mzm. 17:1,5-6,8b,15; Luk. 19:11-28

Santa Teresia dari Kalkuta pernah mengatakan, “Pernahkan engkau mencintai sampai berdarah?”. Sabda Tuhan hari ini mengingatkan saya akan perkataannya itu. Tujuh orang bersaudara serta ibunya dalam bacaan pertama hari ini, mencintai Tuhan sampai berdarah. Karena cinta mereka pada Tuhan, mereka berani melawan kehendak raja Antiokhus yang memaksa mereka melawan hukum Tuhan. Mereka memilih mati dari pada hidup dengan melawan hukum Tuhan. Satu persatu dari mereka, mulai dari saudara yang paling tua dibunuh dengan sangat sadis. Saudara-saudaranya yang lain berserta ibunya yang menyaksikan pembunuhan itu, tidak gentar imannya. Mereka punya keyakinan iman bahwa hidup tidak berakhir pada kematian di dunia. Hidup sekarang menentukan nasib kita di kehidupan berikutnya. Mereka yang setia dan baik hidupnya di masa sekarang, akan baik pula hidupnya di masa yang akan datang. Kitalah yang menentukan bagaimana keadaan hidup kita ke depannya.

Bacaan Injil hari ini juga menyiratkan hal itu. Mereka yang dipercayakan uang mina (1 mina = 100 dinar. 1 dinar = upah kerja 1 hari. 1 mina = upah kerja 100 hari), diberi kebebasan untuk mengusahakannya. Bagi mereka yang tekun mengusahakannya tentu akan mendapatkan keuntungan sesuai dengan usahanya. Tetapi begi mereka yang tidak mengusahakannya maka uang itu akan tinggal tetap. Ketika tuan yang empunya uang itu datang, ia meminta pertanggungjawaban masing-masing dari mereka yang dipercayakan uang mina. Pertanggungjawaban merekalah yang menentukan nasib mereka ke dapannya. Bagi mereka yang setia dan tekun mengusahannya serta mendapatkan hasil, mendapat hidup baik. Bagi mereka yang malas dan mendiamkan uang itu, mendapat hidup yang buruk.

Mina adalah modal yang dipercayakan Tuhan pada kita. Tuhan memberi kebebasan pada kita terhadap apa yang dipercayakan-Nya itu. Terserah kita, apakah kita mau mengusahakannya atau mendiamkannya saja. Tetapi, apa pun yang kita buat pada modal yang dipercayakan Tuhan, Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban nantinya. Tuhan tidak memaksa kita untuk harus menghasilkan laba sebanyak-banyaknya. Tuhan mengharapkan kita mengusahakannya di masa sekarang, dan hasil dari usaha itulah yang akan kita pertanggungjawabkan nantinya dan yang akan menentukan nasib kita ke depannya. Masa sekarang seharusnya dihayati dalam terang masa depan. Rahmat Tuhan menolong kita.

(Fr. Dkn. Jerry Torebelas)

“… Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi….” (Luk. 19:26).

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga aku Engkau dapati selalu setia dalam hidup. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini