“Damai, Damai, Damai…”: Renungan, Selasa 01 Mei 2018

0
2982

Hari Biasa Pekan V Paskah (P)

Kis. 14:19-28; Mzm. 145:10-11,12,13ab,21; Yoh. 14:27-31a

Berita tentang peperangan, kerusuhan, pembunuhan, permusuhan, kebencian, pembakaran rumah ibadat, pertentangan tentang agama mana yang paling benar dan sebagainya, akhir-akhir ini menjadi global trending topics. Di satu sisi, banyak orang tidak lagi melihat manusia sebagai sesama, melainkan musuh yang harus dibasmi dan dibunuh. Kekejaman dunia seakan menelan habis kebahagiaan. Semua dirampas! Di sisi lain, gaung perdamaian dikumandangkan di mana-mana. Kerinduan akan kedamaian dan ketentraman terus disuarakan.

Bacaan Injil hari ini menampilkan pribadi Yesus yang menjanjikan damai sejahtera bagi para murid-Nya. Ia adalah “Sang Damai” itu sendiri! Penginjil Yohanes mau mewartakan bahwa Yesus-lah satu-satunya sosok yang membawa damai. Ia bukan saja berjanji tetapi memberikan damai itu kepada setiap orang yang menginginkannya: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu” (Yoh 14:27). Yesus sungguh-sungguh tidak hanya memberikan damai itu, melainkan menyerahkan diri-Nya sebagai kurban pendamaian itu sendiri. Damai sejahtera hanya bisa diperoleh jikalau orang mau mengasihi-Nya.

Hal demikian yang sekiranya dialami oleh Rasul Paulus dan Barnabas di tengah-tengah pewartaan mereka di Antiokhia dan di berbagai tempat lain yang mereka kunjungi. Kendati mengalami berbagai macam penderitaan dan sengsara sebagai konsekuensi pewartaan akan Kristus, mereka tetap yakin bahwa janji damai sejahtera dan sukacita dari Kristus yang mereka imani dan wartakan pasti akan mereka alami kelak.

Paulus mengungkapkan bahwa untuk mencapai Kerajaan Allah yang penuh dengan damai dan sukacita, orang pertama-tama harus mengalami sengsara dan penderitaan. Mereka yakin bahwa rahmat Kristus yang memulai pewartaan mereka akan menyertai hingga akhirnya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mau mengajarkan kita bahwa hidup yang penuh kedamaian dan sukacita hanya ada di dalam Yesus Kristus. Kedamaian itu harus menjadi jati diri kita sebagai orang Kristiani. Kita secara bersama-sama dipanggil untuk terlibat mewartakan karya perdamaian Kristus di dunia sekarang ini dan di masa yang akan datang.

Kebencian, peperangan, pembunuhan, kerusuhan dan lain-lain harus dipandang sebagai ujian kesetiaan kita pada Kristus yang tersalib. Paulus telah mengalaminya dan memperlihatkan kepada kita tentang resiko yang akan kita alami apabila mengikuti Kristus. Namun lebih dari itu, Kristus justru menghibur dan menguatkan kita: “Janganlah gelisah dan gentar hatimu!”

(Fr. Ray Legio Angelo Lolowang)

 

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh.  4:27a)

Marilah berdoa:

Ya Kristus, jadikanlah aku pembawa damai dan kerukunan bila terjadi kebencian dan perselisihan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini