Hari Biasa Pekan V Paskah (P)
Kis. 14:5-18; Mzm. 115: 1-2,3-4,15-16; Yoh. 14:21-26
Mewartakan Injil adalah salah satu konsekuensi dari kepercayaan. Setiap orang yang beriman menyatakan dirinya dengan perbuatan kasih. Tindakan kasih diperbuat dalam persekutuan dengan Gereja sebagai komunitas beriman tapi juga yang diselaraskan dalam hidup bersama dengan orang lain dan lingkungan sekitar.
Dalam Injil dengan jelas Yesus berkata kepada para murid-Nya: ‘Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia’. Ungkapan Yesus ini menjadi suatu garansi bagi setiap pengikut-Nya. Yesus mau mengajak orang untuk mengerti bahwa kasih mendahului segala-galanya.
Kasih itu adalah Yesus sendiri. Ia mengatakan hal tersebut selagi bersama para murid-nya. Namun akan datang juga seorang Penolong yakni Roh Kudus, yang diutus Allah untuk mengajarkan segala sesuatu kepada para pengikut-Nya dan akan mengingatkan segala sesuatu yang dikatakan oleh Yesus. Roh Kuduslah yang memimpin Gereja dalam suka duka hidup dan misinya. Roh Kuduslah yang memenuhi diri para rasul sehingga mereka dengan gagah berani dan berkobar-kobar mewartakan Yesus Kristus kepada dunia.
Barnabas dan Paulus adalah saksi nyata dari ungkapan iman mereka kepada Allah. Mereka berdua tidak merasa gentar meski mendapat penolakan oleh orang banyak demi mewartakan Injil. Kegentaran mereka didasari pada iman yang begitu besar, sebab Allah akan memberikan Penolong, yakni Roh Kudus. Roh Kudus ini menjadi daya pendorong yang mengingatkan para rasul bahwa bekerja demi mewartakan Injil Kristus adalah suatu sukacita dan kemuliaan. Hasil usaha mereka tidak akan berujung pada kesia-siaan. Justru rahmat Allah semakin berlimpah bagi mereka.
Dewasa ini, orang masih berkutat dengan perkara-perkara duniawi. Orang masih berorientasi pada popularitas dan kekuasaan, harta dan kenikmatan. Barnabas dan Paulus telah menunjukkan kepada kita, bahwa popularitas bukanlah jaminan agar orang meraih keselamatan. Malahan mereka mengoyakkan pakaian mereka sebagai tanda kerendahan di hadapan Tuhan. Tetapi juga sebagai ungkapan kekecewaan bahwa masih banyak orang tergila-gila dengan kekuasaan dan mementingkan popularitas. Terlebih ketika orang-orang masih percaya kepada takhyul dan kemampuan diri sendiri.
Kita semua diingatkan untuk tidak beriman secara keliru. Sebab kita tahu bahwa Roh Kudus sendirilah yang akan mendampingi, menuntun dan membaharui hidup kita. Sehingga meskipun dianiaya dan ditolak orang, iman dan kepercayaan kita tidak menjadi sia-sia.
(Fr. Yanto Kansil)
“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku” (Yoh. 14: 21a).
Marilah berdoa:
Ya, Tuhan bantulah aku untuk mengasihi dan mewartakan Injil-Mu dengan setia.











