“Bicaralah Pada-Nya”: Renungan, Selasa 10 September 2019

0
2154

Hari biasa (H)

Kol. 2:5-16; Mzm. 145: 1-2, 8-9, 10-11; Luk. 6:12-19

Dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman, kita selalu berdoa, dimana dan pada saat apa pun itu. Contohnya, sebelum mengambil keputusan, kita berdoa terlebih dahulu agar apa yang kita putuskan itu benar serta mendapatkan kemurahan dari Allah Bapa kita. Dengan demikian, kita mempercayakan segalanya kepada Dia. Dengan begitu, kita dimampukan untuk mengambil suatu keputusan atau menentukan satu pilihan yang benar-benar bermanfaat. 

Dalam Injil diceritakan bahwa Yesus berdoa kepada Bapa-Nya. Hal itu dilakukan-Nya sebelum Ia mengambil keputusan untuk memilih para murid-Nya yang akan menemani-Nya dalam karya penyelamatan. Yesus berdoa semalam-malaman kepada Bapa-Nya. Setelah Ia berdoa Dia “mendapatkan kuasa” dari Bapa dan menentukan siapa yang layak menemani-Nya.

Bukankah Yesus adalah Tuhan yang punya kuasa untuk memutuskan sesuatu dan menyembuhkan? Mengapa Ia harus berdoa terlebih dahulu? Benar bahwa Yesus adalah Tuhan dan Ia memiliki kuasa untuk memutuskan sesuatu dan menyembuhkan penyakit. Tetapi bukan itu yang ingin Yesus tunjukkan kepada orang-orang yang mengikuti-Nya. Yesus ingin menunjukkan bahwa orang yang hidup di dunia ini punya kerinduan untuk berbicara dengan Bapa.

Oleh karena itu, Yesus menunjukkan caranya. Cara untuk berbicara dengan Bapa adalah melalui berdoa. Penginjil Lukas melukiskan bahwa Yesus berdoa semalam-malaman. Yesus berdoa semalam-malaman bukan berarti bahwa Yesus menunjukkan agar kita berdoa dari malam hingga pagi lagi, tetapi kita harus berdoa dalam kesunyian, menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi kita dalam berdoa. Dalam kesunyian, kita berusaha membuka diri agar Allah Bapa dapat masuk ke dalam diri kita. Itulah sebabnya kita butuh berdoa “pada waktu malam”. 

Doa orang Katolik pun tidak melulu hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain bahkan orang-orang yang telah meninggal pun didoakan. Dan kita percaya juga bahwa para kudus dan malaikat di surga mendoakan kita.

Kita disebut orang-orang Kristiani karena kita pengikut Kristus. Dengan kata lain, kita adalah murid-murid-Nya sekaligus anak-anak-Nya. Oleh karena itu, adalah hal benar mengikuti apa yang diajarkan guru kepada anak-Nya. Kita meneladan sikap yang ditunjukkan Yesus. Bukankah kita merasa bahagia jika kita dapat berbicara dengan-Nya? Bicaralah, Yesus sedang menunggu.

(Fr. Jefry Lumentut)

“Kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia” (Kol. 2:6).

Marilah Berdoa:

Ya Yesus, buatlah aku untuk tetap ingin berbicara dengan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini