“Bukan Sekedar Seremoni” Renungan, Sabtu 7 September 2019

0
1954

Hari Biasa (H)

 Kol. 1:21-23; Mzm. 54:3-4,6,8; Luk. 6:1-5

Perdebatan mengenai hari Sabat menjadi semacam dinamika dalam karya pelayanan Yesus. Pertanyaan yang diajukan oleh kaum Farisi kepada Yesus, seolah-oleh menunjukkan kehebatan mereka dalam menguji iman Yesus. “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”. Pertanyaan itu menunjukkan bahwa Sabat yang dimengerti oleh orang-orang Farisi itu adalah berhenti dari aktivitas. Padahal, ajaran atau keyakinan itu berbeda halnya dengan yang diajarkan Yesus.

Yesus sendiri menggaris bawahi, bahwa manusia atau kita harus menjadi tuan atas hari Sabat, bukannya hari Sabat menjadi tuan atas diri manusia atau kita, artinya bahwa, alangkah lebih indah jikalau Sabat diisi dengan perbuatan baik, dari pada kemunafikan. Alangkah indahnya Sabat diisi dengan aktivitas yang membuat hidup lebih bermakna, dari pada Sabat dihiasi dengan iri hati, kelaliman, kesombongan, cari muka, atau aktivitas yang muncul tiba-tiba hanya karena suatu seremoni atau perayaan.

Sehingga, makna dari Sabat itu sendiri memberikan pengertian yang memadai dan mendesak setiap kita untuk merealisasikannya. Keyakinan itu juga membawa orang pada suatu pengertian bahwa orang cenderung berbuat baik hanya karena tuntutan “hari itu” yang menyatakan bahwa “hari itu” adalah hari Sabat, sehingga seluruh umat atau jemaat diajak untuk hidup baik dan beramal. Tak dapat dipungkiri bahwa realitas dan bahkan rutinitas orang pada umumnya, demikian adanya. Maka, bacaan-bacaan hari ini mau membimbing umat beriman untuk tetap mengandalkan Tuhan dalam setiap aktivitasnya.

Aturan-aturan menjadi sebuah pedoman. Untuk mengikuti jejak Kristus, kita perlu berefleksi kembali mengenai syarat mengikuti-Nya. Menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Tuhan adalah sebuah sikap yang fundamental atau semacam konstruksi untuk dibangun sebuah cara hidup yang mendukung semangat kemuridan. Pemaknaan tentang cara hidup atau aturan yang dimaksud itupun dibuat bukan untuk menyengsarakan atau menyakiti atau memberatkan tugas atau karya pelayanan setiap orang, akan tetapi aturan yang dibuat itu semata-mata untuk mengarahkan atau menuntun setiap orang untuk menuju hidup yang baik dan teratur.

Berpaling dari aturan yang ada bahkan mempengaruhi orang lain untuk bersikap demikian, bukanlah suatu pilihan yang tepat. Maka bersikap taat perlu sebelum pada akhirnya berakibat fatal. Sehingga dengan demikian, seruan keselamatan, pertolongan, dan permohonan yang diberi label nama Tuhan dapat memperoleh kebaharuan dan janji keselamatan yang datang dari Tuhan.

(Fr. Michael Hart Terok)

“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah” (Mat. 12:7).

Marilah berdoa:

 YaTuhan, berilah aku semangat yang berkobar dalam menjalani setiap hukum-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini