“Bongkar Kebiasaan Lama”: Renungan, Jumat 6 September 2019

0
3002

Hari Biasa (H)

Kol. 1: 15-20;  Mzm. 100: 2,3,4,5; Luk. 5: 33-39

Sebagai orang Katolik, hal berpuasa tentunya bukan hal yang baru. Namun kendati puasa bukanlah hal yang baru, terkadang terdapat kekeliruan dalam pemaknaan mengenai puasa. Ada yang beranggapan bahwa puasa ialah menahan lapar dengan tidak makan dan minum, bahkan yang lebih ekstrim lagi jika masa puasa dijadikan kesempatan untuk menurunkan berat badan (diet), atau kita berpuasa agar terlihat lebih kudus dari orang lain. Padangan-pandangan seperti ini sama seperti pandangan orang Farisi mengenai puasa.

Dalam bacaan Injil hari ini, orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang puasa. Mereka mempertanyakan mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, sedangkan murid-murid Yesus makan dan minum? Orang-orang Farisi menganggap bahwa puasa hanyalah persoalan tidak makan dan tidak minum saja dan dengan melakukan itu mereka menganggap bahwa mereka lebih kudus dari murid-murid Yesus yang makan dan minum. Mereka lupa bahwa puasa bukan hanya sekedar tidak makan dan tidak minum, melainkan juga sebagai sarana melatih diri untuk dapat mengendalikan diri dari segala keinginan-keinginan yang tidak teratur. Puasa bertujuan untuk mempersiapkan hati yang murni untuk menyambut kedatangan Allah, dan Allah sudah  datang dalam diri Yesus tapi mereka tidak menyadarinya karena mereka masih berpegang pada cara berpikir yang lama.

Cara berpikir lama inilah yang ingin dibongkar oleh Yesus dengan memberi perumpamaan : “Tiada seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk ditambalkan pada baju yang tua. Sebab jika demikian, yang baru pun akan koyak. Demikian juga tiada seorang pun mengisikan anggur baru ke kantong kulit tua. Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru. Dan tiada seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab anggur yang tua lebih baik”.  Pembaharuan yang dibawa oleh Yesus menuntut sikap beragama dan pemahaman yang baru pula. Anggur yang baru sebagaimana yang diumpamakan oleh Yesus adalah ajaran yang baru, dan untuk menerima ajaran Yesus diperlukan rahmat serta keterbukaan hati untuk menerima “anggur yang baru”.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita merasa sulit mengubah hidup dan cara pandang kita yang lama. Kita lebih menyukai hal-hal yang lama karena sudah terbiasa, sudah nyaman serta menolak hal baru yang menggangu kenyamanan. Injil hari ini mengingatkan  kita pentingnya sebuah perubahan. Berubah memang sulit, namun tidak mau berubah adalah fatal.

     (Fr. Agus Udenge)

“Bersorak-sorailah bagi Tuhan hai seluruh bumi” (Mzm. 100:1).

Marilah berdoa:

Ya  Tuhan, semoga aku mampu menjadi manusia yang berbudi baru. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini