“Bukalah Hatimu”: Renungan, Senin 2 September 2019

0
2592

Hari biasa (H)

1Tes. 4:13-17a; Mzm. 96:1,3,4-5,11-12,13; Luk. 4:16-30.

Ketika berkenalan dengan seseorang, kita akan memperhatikan orang tersebut dari ujung kaki sampai ujung rambut. Hal ini biasa dilakukan karena biasanya kesan pertama sering menjadi “penentu” perkenalan tersebut. Kemudian kita akan mulai bertanya tentang asal usulnya. Asal usul dari orang bersangkutan menjadi standar perkenalan. Contohnya saja asal usul membantu kita mengetahui keramahan, kebaikan, atau ada icon-icon yang menarik di daerah asal. Sebaliknya, asal usul orang dari daerah yang terkenal dengan banyak pelanggaran biasanya membawa kesan tidak baik, sehingga yang terjadi adalah penolakan.

Penolakan serupa juga terjadi pada Yesus. Dalam bacaan Injil kita melihat bagaimana Yesus ditolak di Nazaret, kampung halaman-Nya. Padahal Yesus bukanlah dari daerah yang terkenal buruk. Yesus berasal dari daerah tersebut. Ia tampil dan mengajar banyak orang di rumah ibadat dengan penuh kuasa dan berwibawa. Akan tetapi orang-orang menolak Dia. Orang menolak Yesus karena mereka mengenal dari mana ia berasal atau mengenal keluarga-Nya. Kebodohan atau keangkuhan orang inilah yang menjadi sumber kehancuran mereka, karena mereka menolak Tuhan yang datang. Mereka tidak percaya karena tahu bahwa Yesus hanyalah seorang anak tukang kayu. Akan tetapi walau ditolak dan dikritik, Yesus tak takut. Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka lalu pergi. Hal ini mengisyaratkan bahwa walau kita ditolak oleh orang dan tak diterima, kita harus maju dan terus berbuat baik.

Orang kadangkala hanya berurusan dengan hal-hal tidak penting dan mengabaikan apa yang penting. Orang hanya melihat hal luaran seseorang tanpa membuka diri untuk menerima dan menghargai orang lain. Kita tidak bisa memberikan label buruk pada seseorang hanya dengan tampilannya saja atau asal-usul seseorang. Bisa jadi ketika kita dalam masalah, kesulitan dan dalam bahaya, orang-orang yang kita anggap tidak baiklah, yang ternyata membantu kita. Atau tanpa kita sadari orang itu dikirim Tuhan untuk membantu dan menolong kita. Kita tidak boleh menutup hati kita bagi orang lain dan Tuhan. Kita hendaknya membuka hati, agar kita bisa menerima orang lain dan mengenal kehendak Tuhan.

(Fr. Hanny Ering)

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku” (Luk. 4:18a).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah aku untuk lebih mengenal Engkau. Amin

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini