“Rendah Hatikah Aku?”: Renungan, Minggu 1 September 2019

0
4298

Minggu Biasa XXII (H)

Sir. 3:17-18, 20,28-29; Mzm. 68:4-5ac, 6-7ab, 10-11;  Ibr. 12:18-19, 22-24a; Luk. 14:1, 7-14.

Kehidupan di zaman modern ini memberikan banyak tawaran yang menarik. Tawaran mengenai kedudukan dan kehormatan seakan menjadi sebuah pilihan utama yang hendak dicapai oleh banyak orang. Menyandang status sebagai orang terhormat dan mendapat kedudukan yang tinggi dalam strata masyarakat atau dalam keluarga seakan menjadikan itu sebagai sesuatu keharusan untuk dikejar dalam hidup.

Bacaan Kitab Suci hari ini menampilkan Yesus yang berbicara mengenai tempat yang paling utama dan yang paling rendah. Yesus bersabda, “Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”. Injil Lukas menampilkan sebuah nasihat dari Yesus untuk tidak mencari dan duduk di tempat terdepan. Yesus mau menunjukkan bahwa sikap untuk mencari kenyamanan melalui kedudukan dan kehormatan akan membawa orang pada kesombongan dan keangkuhan hati. Yesus memberikan nasihat bahwa kedudukan atau status sebagai orang yang dihormati bukanlah sesuatu yang penting. Tetapi Yesus mengajak untuk bersolider dengan sesama yang miskin dan tak berdaya. Yesus sesungguhnya menunjukkan bahwa kerendahan hati adalah hal utama dibanding dengan status yang tinggi sekalipun.

Kitab Putra Sirakh menuliskan bahwa kerendahan hati sama halnya dengan melakukan pekerjaan dengan sopan. Semakin besar dalam kedudukan, patutlah orang merendahkan hati. Sikap kerendahan hati bukanlah tindakan untuk merasa minder atau tak dapat berbuat apa-apa. Tetapi kerendahan hati menjadi sikap hati untuk mengatakan bahwa hanya Tuhanlah yang patut mendapat kehormatan yang setinggi-tingginya.

Mendapat kedudukan dan kehormatan dalam kehidupan ini adalah wajar. Namun, status terhormat bukanlah hal yang paling penting dalam hidup. Kedudukan bukanlah sesuatu yang tinggal tetap. Kedudukan yang dimiliki jika tidak dijalankan dengan rendah hati akan dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Status terhormat hanyalah sebuah titipan bagi kita. Status itu dimaksudkan agar kita dapat menjalani panggilan hidup dengan baik. Mendapatkan kedudukan berarti mendapat kesempatan untuk mau memberi tempat bagi orang lain dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat. Secara kongkrit, kerendahan hati dapat ditunjukkan dengan keterbukaan membantu dan membangun persaudaraan dengan orang kecil.

(Fr. Juan Dotulong)

 “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri ia akan ditinggikan” (Luk. 14:11).

Marilah berdoa:

Ya Yesus, bantulah aku menjadi pribadi rendah hati. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini