Hari Biasa (H)
1Tes.4:1-8; Mzm. 97:1-2b,5-6,10,11-12; Mat.25:1-13.
Istilah zaman now menunjuk pada suatu perubahan wajah dunia yang berbeda dari budaya manusia sebelumnya. Tentu perubahan di berbagai bidang seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor pendukungnya. Banyak hal positif, kebaikan dan keutamaan yang tumbuh. Namun, tak bisa disangkal perubahan ini menumbuhkan banyak hal negatif dan kejahatan di mana-mana. Orang tidak lagi hidup dengan prinsip kebenaran, kebaikan dan cinta kasih, tetapi dengan keegoisan, kejahatan dan yang lebih fatal martabat manusia tidak dianggap lagi.
Bacaan hari ini berbicara tentang hal Kerajaan Surga yang diumpamakan seperti gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh. Gadis-gadis bijaksana membawa pelita dan persediaan minyak sedangkan gadis-gadis yang bodoh membawa pelita tetapi tidak membawa minyak. Pelita adalah hidup manusia dan minyak adalah kekudusan hidup. Gadis-gadis bijaksana adalah orang-orang yang menyalakan pelita hidupnya dengan minyak kekudusan atau kesucian hidup. Mereka hidup dalam kebaikan, kebenaran dan cinta kasih kepada Tuhan dan sesama. Kekudusan hidup melayakkan mereka masuk dalam Pesta Perjamuan Surgawi. Dengan selalu hidup baik, benar dan penuh cinta kasih, mereka menambah minyak kekudusan hidup mereka. Ketika pintu perjamuan dibuka, mereka pun dapat masuk dan berbahagia dalam pesta karena pelita hidup mereka masih menyala dengan kekudusan.
Sedangkan gadis-gadis yang bodoh adalah orang-orang yang pelita hidupnya lama-lama padam dan mati karena kurangnya minyak kekudusan hidup. Mereka tidak lagi mengejar kekudusan hidup, dengan melakukan perbuatan baik, cinta kasih, dan benar di mata Tuhan dan sesama tetapi melakukan kejahatan, hawa nafsu, dan mencemarkan diri dan hidupnya. St. Paulus mengatakan, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus” (1 Tes. 4:7). Dan memang inilah yang dikehendaki Allah yakni pengudusan kita. Pada akhirnya baru mereka sadar dan mulai sibuk mencari-cari minyak kekudusan, sehingga akhirnya tidak dapat masuk dalam pesta perjamuan.
Bacaan ini mengingkatkan kita untuk selalu hidup dalam kekudusan. Jadikanlah hidup kita sebagai pelita yang bercahaya karena minyak kekudusan. Lakukanlah kebaikan, kebenaran, cinta kasih, dan jangan cemarkan hidup kita dengan dosa dan kejahatan agar minyak kekudusan hidup kita tidak akan pernah berkurang dan habis. Selalu tersedia hingga pintu pesta perjamuan surgawi dibuka untuk kita. Jadikanlah budaya zaman now sebagai budaya “zaman mencari kekudusan”.
(Fr. Valentino Pandelaki)
“Ajarlahkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu” (Mzm. 119:66).
Marilah berdoa:
Ya Allah, Engkaulah sumber kebijaksanaan kami. Anugerahkanlah kebijaksanaan kepada kami semua. Amin.











