“Hidup dalam Kebenaran”: Renungan, Rabu 28 Agustus 2019

0
2293

Pw S. Augustinus, UskPujG (P).

1Tes. 2:9-13; Mzm. 139:7-8,9-10,11-12ab; Mat. 23:27-32.

Pemazmur hari ini mengumandangkan, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika kau menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku, …”.

Pemazmur hendak menunjukkan bahwa Tuhan adalah Yang Mahakuasa. Tuhan berada di tempat mana pun juga. Untuk itu dikatakan bahwa Tuhan pun berada di dunia orang mati. Ia berada baik di dunia orang mati, maupun di dunia orang hidup. Ia tak terbatas ruang dan waktu.

Bacaan Injil hari ini menunjukkan tentang kebodohan dari orang-orang Farisi. Mereka berlaku munafik di hadapan Tuhan. Mereka membuat aturan-aturan yang diterapkan kepada orang-orang banyak, tetapi mereka sendiri tidak melakukan hal itu. Mereka membuat orang banyak menderita, tetapi mereka malah bersenang-senang di atas penderitaan orang banyak itu.

Yesus yang melihat bahkan mengalami itu memprotes mereka. Ia mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan”.

Teguran dari Yesus ini adalah sangat keras. Teguran ini membuat orang Farisi dan Ahli Taurat menjadi malu dan marah. Mereka tidak menerima apa yang dikatakan oleh Yesus, walaupun apa yang dikatakan oleh Yesus benar adanya. Orang Farisi dan Ahli Taurat telah dibutakan dengan kekuasaan mereka. Mereka menggunakan jabatan mereka untuk menguasai orang banyak, khususnya rakyat biasa.

Teladan yang sepantasnya ditunjukkan oleh Ahli Taurat tidak ditunjukkan oleh mereka. Untuk itulah dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, rasul Paulus mengatakan, “Kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu”.

Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah dia yang mengajarkan ajaran dan dia pulalah yang memberikan teladan kepada umatnya. Ia tidak sekedar mengajarkan saja, tetapi juga mempraktekkan ajarannya di dalam kehidupan ini.

Kita orang Kristen patut bersyukur karena banyak teladan dari para kudus. Pun pada hari ini, Santo Agustinus yang kita peringati adalah salah satu teladan pemimpin yang baik dan benar.  Teladan hidup Yesus, Sto. Paulus, dan Sto. Agustinus kiranya membuat kita berani bertindak dan berperilaku sebagai orang benar dan baik.

                                                                                                                (Fr. Koresta Lila)

“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu”  (Mzm. 139:7).

Marilah Berdoa:

Tuhan, bimbinglah langkah hidupku, supaya tetap di jalan yang benar dan bisa menjadi teladan yang baik dan benar bagi banyak orang. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini