“Mau Bahagia?”: Renungan, Sabtu 10 Agustus 2019

0
1941

Pesta St. Laurensius, Diakon (M)

2 Korintus. 9:6-10; Mazmur 112:1-2,5-6,7-8,9; Yohanes 12:24-26

Ada ungkapan yang tidak asing di telinga kita yakni “Mati satu tumbuh seribu”. Ungkapan ini sebetulnya terdengar amat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam untuk kita renungkan bersama. Benih dari biji gandum sebelum menjadi pohon yang menghasilkan gandum yang berbuah lebat, terlebih dahulu jatuh ke tanah dan mati kemudian bertumbuh sesuai dengan proses pertumbuhannya. Bahkan biji kecil itu dapat menjadi tempat berlindung bagi makhluk hidup yang lainnya.

Hari ini lewat bacaan Injil, Yesus mengajak kita untuk menjadi seperti biji gandum yang tidak langsung menjadi orang-orang yang sukses dan penuh kebahagiaan. Sebab kebahagiaan dan kesuksesan mudah diperoleh kalau kita mau berkorban. Melalui pengorbanan  kita yang nyata, lewat membantu orang lain menjadi konsekuensi kalau mau hidup bahagia. Seperti biji gandum menghasilkan buah yang baik terlebih dahulu mati, demikian pula kita. Untuk memperoleh kebahagiaan dalam hidup yang sempurna dituntut pengorbanan. Pengorbanan yang kita lakukan hendaklah tidak memikirkan untung rugi karena kita berkorban bukan dengan cita-cita yang tersembunyi untuk tujuan kesenangan pribadi kita sendiri.

Orang yang beriman kepada Kristus, tidak akan mendahulukan keuntungan diri sendiri. Melainkan, ia akan berusaha untuk mendahulukan kebahagiaan dalam hidup bersama dan selalu mau untuk belajar dari Dia yang telah berkorban hingga titik darah penghabisan, dengan wafat di salib.

Kesetiaan Yesus sampai di atas kayu salib menjadi tanda bahwa pengorbanannya tulus untuk keselamatan setiap orang yang percaya kepada kebenaran Injil yang disampaikan kepadanya. Sehingga pengorbanan Yesus juga menjadi pengorbanan kita dengan membangun komitmen untuk berjuang hingga titik darah penghabisan karena kemuliaan surgawi menjadi tujuan kita yang abadi.

Melalui pesta Santo Laurensius, kita juga diajak untuk setia berkorban demi memperjuangkan iman kita. Santo Laurensius melihat orang yang sangat membutuhkan uluran tangan kasih. Harta gereja yang dijaga bukanlah uang, emas, permata, dll, tetapi orang-orang miskin. Mari kita belajar untuk menjadi orang bahagia dengan mau berkorban untuk orang lain tanpa memikirkan pengorbanan-pengorbanan palsu untuk kebahagiaan hidup kita.

(Fr. Petrus Fransiskus Kowarin)

“Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24).

Marilah Berdoa:

Tuhan, bantulah kami untuk mampu berkorban terhadap sesama. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini