“Kata Sang Guru”: Renungan, Minggu 4 Agustus 2019

0
2065

Hari Minggu Biasa XVIII (H)

Pkh. 1:2; 2:21-23; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Kol. 3:1-5.9-11; Luk. 12:13-21

Nasihat utama Bunda Maria kepada para pengikut Yesus adalah, “Apa yang dikatakannya kepadamu buatlah itu.” Injil hari ini menampilkan seseorang yang meminta agar Yesus mengatakan sesuatu kepada saudaranya, agar berbagi warisan dengannya. Ia meminta bukanlah karena rindu mendengarkan kata-kata Yesus, melainkan hendak memanfaatkan Yesus untuk mencapai keinginannya. Ia berharap dengan kata-kata Yesus, saudaranya menuruti keinginan hatinya.

Memang Yesus mengatakan sesuatu namun bukan untuk memenuhi keinginan orang itu. Ia mengatakan sabda kebijaksanaan hidup bagi mereka yang mau mendengarkan Dia. “Berjaga-jaga dan waspadalah terhadap segala ketamakan! Sebab walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu.”

Kekayaan dunia fana ini tidak berkuasa menyelamatkan hidup manusia dari kematian. Yesus mengingatkan bahwa dengan kematian hidup dan kekayaan manusia berakhir dalam kesia-siaan. Usaha menguasai dan menimbun harta melebihi kebutuhan hidup tujuh turunan menjadi bentuk kebodohan di hadapan kematian. “Hai orang bodoh pada malam ini juga nyawamu akan diambil dari padamu. Bagi siapakah nanti apa yang telah kau sediakan itu?”

Yesus menantang para pendengar untuk membebaskan diri dari ketamakan seperti itu. Sebanyak apapun, harta duniawi tidak pernah akan cukup untuk memuaskan nafsu dan keinginan yang tak teratur. Keinginan perlu ditundukkan pada kebijaksanaan dan pengenalan yang benar akan nilai barang-barang duniawi.  Manusia diajak menemukan kebenaran nilai serta manfaat dari barang-barang duniawi bagi hidupnya. “Apakah faedah yang didapatkan manusia dari segala usaha yang ia lakukan dengan jerih payahnya di bawah matahari?”

Barang-barang duniawi tidak dimaksudkan untuk ditimbun dan dikoleksi sebagai pemuas keinginan dan nafsu posesif. “Berjaga-jaga dan waspadalah terhadap segala ketamakan!” Hawa nafsu dan keinginan yang teratur menjadi motor pengerak manusia untuk berbuat dan berbakti. Hawa nafsu dan keinginan yang teratur dan terkendali membuat hidup manusia terarah pada Kristus dan menjadi satu dan serupa dengan Kristus.

Kristus adalah Dia yang kaya berani menjadi miskin dan menjadikan kekayaan hidup sebagai anugerah untuk memberi hidup bagi manusia. Dalam keserupaan dan persekutuan dengan Kristus, manusia dapat menemukan makna kekayaan duniawi sebagai instrumen bakti dan kasih bagi Tuhan dan sesama. Melalui amal kasih harta duniawi menjadi sarana persaudaraan dan persekutuan, dan menghantar manusia menuju hidup abadi bersama Allah.

(Pst. Julius salettia, Pr)

“Berjaga-jaga dan waspadalah terhadap segala ketamakan!” (Luk. 12:15).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, semoga dengan harta duniawi kami dapat menyatakan kasih bagi sesama seperti Engkau telah mengasihi kami dengan anugerah ciptaan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini