“Konsekuensi”: Renungan, Selasa 30 Juli 2019

0
2122

Hari biasa (H)

Kel. 33:7-11; 34:5b-9, 28; Mzm. 103:6-7, 8-9, 10-11, 12-13; Mat. 13:36-43

Pengalaman dihukum oleh orang tua atau guru karena melakukan kesalahan adalah kenangan pahit dan terkadang terasa menyakitkan. Sebaliknya, muncul perasaan gembira ketika orang tua atau guru memberi pujian dan hadiah atas kebaikan yang kita lakukan.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang penghakiman terakhir yang digambarkan dengan gandum dan ilalang. Gandum adalah hasil dari benih baik yang ditaburkan Anak Manusia dan menjadi simbol anak-anak Allah, sementara lalang adalah hasil dari benih jahat yang ditaburkan oleh si jahat dan menjadi simbol anak-anak si jahat. Ladang menjadi gambaran dunia sebagai rumah bersama orang-orang baik dan orang-orang jahat. Di dunia akhirat, orang baik dan orang jahat akan dipisahkan oleh malaikat-malaikat dan akhirnya orang baik akan menikmati kebahagiaan di surga, sebaliknya orang jahat akan dicampakkan ke dalam neraka.

Kehidupan manusia di dunia senantiasa dikelilingi oleh kejahatan dan dosa. Kerapuhan dan kelemahan manusiawi sering menghantar manusia untuk berbuat dosa dan kejahatan yang membawa kita semakin jauh dari Allah. Tentang hal ini, manusia perlu menyadari bahwa meskipun berdosa, ia memiliki Allah yang penuh belaskasih. Dalam teks mazmur, kita mendengar dan tahu bahwa Allah itu sabar dan penuh kasih. Ia menjadi Bapa yang baik yang sayang kepada manusia, ciptaan-Nya, anak-anak-Nya. Dengan demikian, meskipun rapuh dan penuh dosa, Allah tetap terbuka bagi orang yang mau menyadari kesalahannya dan bertobat. Pertobatan menghasilkan buah kebahagiaan kekal di surga.

Bacaan-bacaan yang kita dengarkan pada hari ini mengingatkan kita bahwa kehidupan kita di dunia selalu memiliki konsekuensi di dunia akhirat, tergantung bagaimana cara kita menjalani kehidupan di dunia ini. Nabi Musa adalah orang taat yang berkenan di hati Allah. Karena ketaatan-Nya terhadap perintah-perintah Allah, Dia dipilih Allah untuk tinggal bersama di kemah suci-Nya. Oleh karena itu, konsekuensi atas ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya adalah tinggal bersama Bapa dalam kerajaan-Nya. Sebaliknya, manusia yang tegar hati terhadap dosa dan melanggar perintah Allah, maka konsekuensinya adalah neraka.

(Fr. Giovani Gosal)

“Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm. 103:8)

Marilah  berdoa:

Ya Tuhan, curahkanlah Roh Kudus-Mu untuk mendampingi hidupku dalam peziarahan ini.  Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini