Hari biasa (H)
Kel. 24:3-8; Mzm. 50:1-2,5-6,14-15; Mat. 13:24-30
Pada dasarnya tujuan hidup manusia ingin selalu melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Sebab tujuan hidup manusia selalu terarah pada kebaikan baik bagi dirinya maupun bagi sesamanya.
Yesus telah memberikan sebuah perumpamaan tentang lalang di antara gandum untuk mengumpamakan Kerajaan Surga. Di mana ada seorang penabur yang menaburkan benih yang baik di ladangnya, namun datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandumnya lalu pergi. Penabur benih yang baik itu adalah Allah sendiri, sedangkan penabur benih lalang adalah iblis itu sendiri.
Kita sebagai manusia selalu dibayang-bayangi oleh kesombongan, iri hati, benci, dendam, dan hawa nafsu. Dengan kesombongan, kita selalu meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Dengan iri hati, kita tidak pernah menerima dan mengakui kelebihan orang lain. Dengan benci dan dendam, kita tidak pernah berdamai dengan orang lain dan berusaha untuk menjatuhkannya. Dengan hawa nafsu, kita terjerumus pada kenikmatan duniawi dan menghalalkan segala cara.
Ini merupakan benih lalang yang sering tumbuh di dalam diri kita. Kita pun selalu membela diri dengan mengatakan bahwa hal itu adalah manusiawi. Namun tidak tahukah kita bahwa kesombongan, iri hati, benci, dendam dan hawa nafsu itu ditaburkan oleh iblis di dalam diri kita. Iblis senantiasa menggoda kita dengan kelemahan manusiawi kita sehingga kita dijauhkan dari Allah sendiri.
Apa bila kita terperosok kedalamnya dan tidak bisa keluar daripadanya, maka kita pun bertumbuh menjadi lalang itu sendiri. Dan apabila kita telah menjadi lalang, maka saat musim menuai atau saat pengadilan terakhir, kita pun akan diikat dan dibakar. Tempat pembakaran itu adalah neraka itu sendiri. Namun apabila kita adalah gandum itu sendiri kita pun akan dikumpulkan dan dibawa ke dalam lumbung. Dan lumbung itu adalah Surga itu sendiri.
Melalui bacaan Injil ini kita diajak untuk menjadi benih yang baik. Kita sendirilah yang dapat menolak benih lalang tersebut. Melalui kesadaran kita akan Firman Allah kita pun harus mengusahakan benih yang baik itu agar bertumbuh di dalam diri kita. Melalui kesadaran kita bahwa benih lalang itu dapat membinasakan diri kita, maka kita pun patut membinasakan benih tersebut di dalam diri kita. Agar kita dapat dikumpulkan ke dalam lumbung yang pemiliknya adalah Allah sendiri.
(Fr. Yehizkiel Lampeuro)
“Segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan” (Kel. 24:7)
Marilah berdoa:
Ya Allah, semoga kami selalu mengusahakan benih baik. Amin











