“Pelayanan dan Kerendahan Hati”: Renungan, Kamis 25 Juli 2019

0
2057

Pesta S. Yakobus, Ras (M)

2Kor. 4:7-15; Mzm. 126:1-2ab 2cd-3, 4-5-6; Mat. 20:20-28

Ada begitu banyak bentuk pelayanan yang  mungkin sudah, sedang dan akan kita berikan kepada sesama. Namun muncul pertanyaan, apakah pelayanan yang kita berikan sungguh-sungguh lahir dari rasa kepedulian yang tulus atau karena supaya orang lihat, puji, kagumi, dan hormati? Pelayanan yang sungguh-sungguh adalah pelayanan yang lahir karena cinta dan ini dapat kita pelajari dari pribadi Yesus, di mana Yesus yang adalah Allah namun mau menjadikan diriNya sebagai seorang pelayan dan hamba.

Tindakan  ini jelas ketika Yesus membasuh  kaki para murid. Yesus sendiri mengatakan kepada para murid, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa  ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”. Yesus memberikan teladan sekaligus mewariskan sesuatu yang baik kepada para murid. Nampak juga sikap kerendahan hati yang harus dimiliki oleh para murid dan para pengikut-Nya.

Rasul Paulus dalam bacaan yang kedua  menegaskan, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami”. Hal ini mau menekankan bahwa semangat pelayanan yang kita miliki merupakan sebuah  anugerah yang diberikan oleh Allah sendiri kepada kita dan Allah mau menyatakan diri-Nya kepada orang lain melalui kehadiran kita. Semangat pelayanan  dan berbagai bentuk pelayanan yang kita berikan kepada orang lain, mau menunjukkan bahwa Kristus sendirilah yang berkarya di dalam diri kita. Kesadaran akan hal ini sangat penting agar kita tidak sampai pada pemikiran bahwa semua bentuk pelayanan yang  kita berikan kepada orang lain adalah berasal dari kemampuan sendiri.

Sebagai orang Katolik kita semua dipanggil untuk dapat meneladani sikap Yesus. Dan agar kita mampu  meneladani sikap Yesus maka hal yang paling penting adalah  kita harus “rendah hati” dan berani mengubah manusia lama kita yang cenderung memprioritaskan hal-hal duniawi, seperti rakus akan kekuasaan atau jabatan, selalu ingin dihormati, memikirkan diri sendiri, dan sebagainya. Karena pelayanan dan kerendahan hatilah yang akan menjadikan kita murid-murid Yesus yang berbahagia.

(Fr. Aloisius Wazi)

“Bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor. 4:7)

Marilah berdoa:

Ya Allah, berilah kami semangat pelayanan dan kerendahan hati. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini