Hari biasa (H)
Kel. 12:37- 42; Mzm. 136:1,23-24,10-12,13-15; Mat. 12:14-21
Ada sebuah kalimat bijak yang berbunyi: ”Tinggi hati selalu merendahkan orang lain, rendah diri selalu merasa lebih rendah dari orang lain, dan rendah hati selalu memandang semua orang sama. Seorang yang cakap namun rendah hati seperti perhiasan yang nilainya sama dengan sebuah kerajaan”. Hari ini Kristus mengajak setiap umat-Nya untuk selalu memiliki sikap rendah hati. Bacaan hari ini mengisahkan bagaimana Yesus tampil dan menyembuhkan banyak orang yang sedang mengikuti Dia. Namun Yesus melarang mereka untuk memberitahukan siapa Dia. Sikap rendah hati inilah yang Yesus harapkan dimiliki setiap orang setelah berbuat kebaikan terhadap orang lain.
Sikap kerendahan hati Yesuslah yang membuat orang-orang Farisi bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus. Mereka menuduh bahwa Yesus melakukan pelanggaran terhadap hukum Taurat karena menyembuhkan orang pada hari Sabat. Namun semuanya itu hanyalah alasan mereka agar Yesus bisa dihukum mati. Mereka merasa bahwa kedudukan mereka mulai terancam karena banyak orang yang segan dengan sikap Yesus. Sikap orang-orang Farisi inilah yang dinamakan sikap “tinggi hati”. Mereka merasa bahwa merekalah yang pantas untuk mendapatkan kepopuleran dari banyak orang. Bahkan mereka menghalalkan segala cara untuk dapat menyingkirkan orang-orang yang mengancam kedudukan mereka.
Dalam bacaan pertama dikisahkan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Firaun mengijinkan Musa membawa umat Israel keluar dari Mesir bukan tanpa alasan. Kisah pembebasan itu dapat terjadi setelah Allah menghukum raja Fiaun dengan tulah ke-10 (kematian anak sulung). Hal itu juga akibat dari sikap Firaun yang tidak mau menunjukkan sikap kerendahan hati terhadap Allah. Ia mempertahankan ketegaran hatinya untuk tetap menjadikan bangsa Israel sebagai budak di Mesir.
Yesus menunjukkan sikap rendah hati yang didasari oleh cinta ilahi. Perbuatan yang baik dan benar akan menjadi berbuah bagi diri sendiri apabila dilakukan dengan ketulusan. Rendah hati tak pernah merasa kekurangan dan sama sekali tidak memiliki syarat dalam beramal kasih.
(Fr.Jeklin Mononimbar)
“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekeyaan, kehormatan dan kehidupan” (Ams. 22:4).
Marilah Berdoa :
Tuhan, ajarilah kami untuk tetap randah hati apabila kami mendapat kehormatan dan pujian dari orang lain. Amin











