“Aturan dilandasi dengan Cinta Kasih”: Renungan, Jumat 19 Juli 2019

0
2232

Hari Biasa (H)

Kel.11:10-12:14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; Mat. 12:1-8

Mengapa manusia harus taat pada aturan? Apakah aturan itu selalu mengikat manusia?  Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia pada hakikatnya membutuhkan aturan untuk dapat bertahan hidup.  Aturan adalah pedoman hidup yang harus ditaati dan dipatuhi manusia, sehingga hidupnya menjadi semakin manusiawi. Ada banyak aturan yang ada, yakni aturan kosmis, aturan tubuh manusia, aturan artifisial.  Pertama, aturan kosmis yang menjelaskan bagaimana terjadinya bentuk pergantian hari dan pergantian musim. Kedua, aturan tubuh manusia bukan dilihat dari arti katanya, tetapi dalam bentuk kepenuhan akan rasa lapar, haus, mengantuk, lelah, dan sebagainya. Ketiga, aturan artifisial yang terdiri atas hukum adat, hukum sipil, dan aturan komunitas serta lembaga lainnya. Aturan-aturan ini, membantu manusia untuk bertahan hidup dengan kualitas yang baik.

Dalam bacaan Injil hari ini diceritakan tentang para murid  Yesus yang memetik bulir gandum dan memakannya di hari Sabat. Tindakan ini kemudian dikritik oleh orang-orang Farisi yang mengatakan bahwa para murid berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat. Sebab bagi mereka hari Sabat adalah hari perhentian total dari segala kegiatan dan harus fokus pada ibadah di bait Allah.

Orang farisi adalah mereka yang selalu berusaha untuk berdebat dengan Yesus. Mereka adalah orang-orang munafik yang suka mencari-cari kesalahan orang lain. Namun mereka sendirilah yang melanggar aturan itu. Yesus mengatakan, “Yang Kukehendaki ialah belas kasih dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah”. Yesus menegaskan bahwa aturan harus dilandasi dengan cinta kasih. Yesus tidak melanggar aturan itu, tetapi Dia datang untuk menyempurnakannya. Bagi-Nya bila aturan tidak dilandasi dengan cinta kasih, maka aturan hanyalah kekuatan manusia yang dapat membinasakan sesamanya.

Manusia adalah tuan atas aturan, sehingga aturan itu harus ditegaskan untuk membela kemanusiaan. Ketika kemanusiaan tidak lagi dibela malah melecehkan, maka aturan tidak memenuhi hakikatnya. Untuk itu, seruan Yesus bahwa aturan harus mengabdi pada kebaikan yang tertinggi, memiliki nilai kebaikan. Manusia memiliki kehendak untuk menciptakan aturan baginya bahkan bagi orang lain. Dan  itu semua haruslah berlandasakan pada cinta kasih.

(Fr. Fidelis Solilit)

“Yang Kukehendaki ialah belas kasih dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah” (Mat. 12:12)

Marilah berdoa :

Tuhan, bukalah hatiku untuk selalu peka akan cinta kasih-Mu. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini