“Pergilah dan Perbuatlah Demikian”: Renungan, Minggu 14 Juli 2019

0
2011

Hari Minggu Biasa ke XV (H)

Ul. 30:10-14; Mzm. 69:14,17,30-31,33-34,36ab,37 atau Mzm. 19:8,9,10,11; Kol. 1:15-20; Luk. 10-25-37

Kita senantiasa hidup bersama orang lain. Bahkan ada begitu banyak gagasan yang menjelaskannya. Semua penjelasan yang ada justru menegaskan pentingnya kehadiran sesama itu. Lewat sabda Tuhan hari ini, kita diajak untuk merenungkan hal penting ini dalam beberapa aspek.

Pertama, dari penegasan Musa ditegaskan ajakan untuk berbalik kepada Allah. Terlebih karena Sabda Tuhan itu sesunguhnya ada dekat pada manusia. “Firman itu sangat dekat  padamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatiMu; hendaklah engkau melaksanakannya”.

Kedua, itulah yang disampaikan oleh Rasul Paulus, bahwa Kristus adalah gambaran Allah. Dan kita telah didamaikan dengan Allah berkat Kristus. “Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dia Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Hal ini sungguh menunjukkan harkat dan martabat manusia di hadapan Allah. Bahwa Allah sungguh mengasihi manusia yang terwujud lewat pengorbanan Putra-Nya lewat darah salib Kristus.

Ketiga, itulah yang ditujukan dalam Injil ketika seorang Ahli Taurat datang kepada Yesus dengan membawa suatu pertanyaan. Dia ingin menguji kesetiaan Yesus kepada Taurat dengan mempertanyakan hal apakah yang harus diperbuat untuk mencapai kehidupan kekal. Yesus menegaskan hal tersebut dengan kisah orang Samaria yang baik hati. Suatu kisah yang secara tidak langsung mengkritik sikap dari orang-orang yang dalam kacamata bangsa Yahudi adalah lebih baik dari orang Samaria.

Yesus lalu bertanya kepada orang Farisi tersebut, siapakah dari ketiganya yang yang telah menjadi sesama dari orang Yahudi yang malang itu? Dan tentu saja orang Samaria. Dia sudah menjadi saudara baginya. Orang malang itu merasa diperhatikan, dicintai. Baginya orang Samaria itu bukan lagi orang asing, melainkan sesamanya. Ajaran Yesus pada hari ini sangat luar biasa. Ia tidak menguji atau mau mencobai kita. Sebaliknya, Ia mau menyadarkan kita akan hal mulia di balik semua kecakapan, keberadaan, kegiatan dan kesibukan.

Maka, perintah mengasihi Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal harus benar-benar kita hidupi. Dengan begitu, sikap peduli pada sesama selalu muncul dalam diri kita. Dan dalam hidup di dunia sekarang ini, mari kita perkuat diri dari dalam, dewasakan iman dan yakinkan diri bahwa jika kita sungguh dekat dengan sabda Tuhan dan mengimaninya, kita akan sanggup melaksanakannya dan menghadapi segala perkara yang ada. Itulah pentingnya mengapa pada hakekatnya kita hidup dalam kebesamaan satu dengan yang lain.

(Pst. A. Bayu Nuyartanto, Pr)

“Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk. 10:37).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami dimampukan untuk mengalami kehidupan bersama sesama kami sebagai bentuk sikap saling menghargai, menghormati dan mengembangkan cinta kasihMu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini