“Kebijaksanaan Membutuhkan Iman”: Renungan, Kamis 27 Juni 2019

0
2041

Hari Biasa (H)

Kej. 16:1-12,15-16; Mzm. 106:1-2,3-4a,4b-5; Mat. 7:21-29

Di zaman milenial ini orang cenderung mengejar gelar akademik sebanyak-banyaknya untuk rupa-rupa kepentingan, misalnya memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan karier dan penghasilan dalam bidangnya masing-masing, supaya dikenal di mana-mana karena kehebatannya. Bahkan yang lebih mencolok yakni agar mendapat pengakuan dari orang lain bahwa ia adalah orang yang paling cerdas, pandai, dan bijaksana. Alhasil, orang tidak lagi mempedulikan dari mana sumber kebijaksanaan yang ia miliki saat ini.

Injil hari ini berkisah tentang satu tema penting (masih dalam kerangka Khotbah Yesus di bukit), yakni bagaimana seharusnya orang bersikap bijaksana.

Pertama, Yesus memperingatkan kita semua agar waspada dan hati-hati berhadapan dengan nabi-nabi palsu. Ajaran sesat itu hampir tidak dapat dibedakan dengan ajaran yang benar. Ada banyak orang dengan begitu meyakinkan karena kesaksian hidupnya disertai dengan rekam jejak yang jelas pula bernubuat dengan nama Tuhan, mengusir setan demi nama-Nya, mengadakan mukjizat atas nama-Nya. Sejumlah orang termasuk kita sendiri turut tenggelam serta terpesona atas hal sedemikian. Di sinilah Yesus mengingatkan dan menuntut kebijaksanaan dari kita. Ia memperdengarkan dengan lantang bahwa tidak semua orang yang demikian berkenan di hadapan Bapa.

Kedua, Yesus menegaskan pentingnya mendengar serentak melakukan kehendak Bapa di surga agar ‘bangunan iman’ kita tidak goyah dan runtuh ibarat rumah yang berdiri di atas pasir lalu dilanda banjir dan angin badai. Rupa-rupa pengajaran diperhadapkan untuk kita. Kita dituntut untuk menyikapinya. Dalam posisi semacam ini kebijaksanaan tidaklah cukup tanpa iman. Iman yang benar lahir dari pendengaran yang baik atas sabda Tuhan. Dan, dari sanalah kita dapat mengambil bagian dalam kebijaksanaan ilahi.

Lantas, pesan apa yang dapat kita pelajari dari Injil Suci hari ini? Kebijaksanaan bukanlah soal seberapa tinggi pendidikan kita dan seberapa banyak gelar akademik kita. Kebijaksanaan bukanlah soal seberapa hebat kita berbicara rupa-rupa hal termasuk berbicara tentang Tuhan yang kita imani. Kebijaksanaan bukan pula soal menentukan pilihan yang kita anggap benar. Tetapi lebih dari itu, kebijaksanaan lahir dari iman yang benar. Dan, iman yang benar itu lahir dari mendengarkan perkataan Bapa dan melakukan kehendak-Nya dalam hidup sehari-hari. Sudahkah kita melakukannya?

(Fr. Ray Legio Angelo Lolowang)

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Mat. 7:24).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, kurniakanlah kami hati yang bijaksana agar mampu mendengar perintah sabda-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini