“Dilan Kini”: Renungan, Selasa 25 Juni 2019

0
2259

Hari biasa (H)

Kej. 13:2,5-18; Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5; Mat. 7:6,12-14

Sebuah film yang telah dirilis dan dipublikasikan dengan judul Dilan 1991 mampu menarik banyak perhatian anak muda. Tokoh utama dalam film tersebut adalah Dilan dan Milea. Dilan hadir sebagai seorang kepala geng sepeda motor dan peramal. Milea hadir sebagai pendamping Dilan. Satu hal yang dapat dipelajari dari  film tersebut adalah usaha yang  dikerjakan untuk mendapatkan cinta Milea. Bukan hanya ramalan tetapi juga aksi sebagai pembuktian kasihnya kepada Milea. Hal demikian nampak dalam perubahan hidupnya untuk tidak terlibat dalam pertempuran antara geng motor melainkan selalu bersama Milea.

Sabda Tuhan hari ini menunjukkan kepada  kita jalan kebenaran yang menjadi destinasi kehidupan umat manusia. Tuhan menghendaki  agar manusia sadar dan tahu akan jalan benar menuju kehidupan kekal. Jalan kebenaran mesti menjadi  prioritas dalam kehidupan kita. Sebab kehidupan abadi tidak diperoleh secara cuma-cuma. Kehidupan kekal  diperoleh melalui usaha keras. Hal ini nampak secara jelas dalam Injil hari ini. Dilukiskan dengan amat menantang, bahwa banyak orang memilih untuk melewati jalan luas menuju kebinasaan,  sementara hanya sedikit orang yang  melalui jalan sempit menuju kehidupan.

Untuk berjalan dalam kebenaran menuju kehidupan abadi, sabda Tuhan hari ini menawarkan sekurang-kurangnya dua jalan kepada kita. Pertama, jalan  kekudusan. Pengudusan diri merupakan hal utama untuk selalu berada dalam jalan kebenaran. Pengudusan diri membuka mata hati dan untuk menuntun kita berjalan dalam kebenaran. Pengudusan diri membersihkan kita dari dosa dan Allah siap menerima diri kita untuk jalan bersama-Nya.

Kedua, jalan kebaikan. Kebaikan merupakan salah satu jalan untuk memperoleh kehidupan abadi. Berjalan bersama dan selalu memprioritaskan kebaikan serta menyatu dengannya, itulah jalan kebenaran yang menuntun kita kepada kehidupan kekal.

Ada begitu banyak jalan yang ditawarkan dunia sekarang. Manusia mengalami pergolakan batin saat berhadapan dengan pelbagai tawaran yang demikian. Kita seringkali memilih jalan yang baik, tetapi juga jalan yang tidak baik. Semoga kita seperti Dilan yang mau berubah ketika berada dalam jalan yang salah dan seperti Milea yang membantu orang lain kembali kepada jalan benar.

(Fr. Amatus Watkaat)

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah puntu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang masuk melaluinya” (Mat. 7:13)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, genggamlah tangan kami untuk selalu berjalan dalam kebenaran bersama-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini