“Dilahirkan Kembali”: Renungan, Senin 24 Juni 2019

0
2322

Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis (P)

Yes. 49: 1-6; Mzm. 139:1-3, 13-14ab, 14-15; Kis. 13 :22-26; Luk. 1: 57-66, 80

Setiap orang memiliki sejarah hidupnya sendiri, mulai dari kandungan, masa kanak-kanak, masa remaja, muda, dewasa, masa tua dan akhirnya meninggal dunia. Seorang yang dikenang sejarah hidupnya menunjukkan bahwa ia adalah orang istimewa di mata banyak orang.

Penginjil Lukas hari ini dengan tepat menggambarkan siapa dan bagaimana kehidupan Yohanes Pembaptis. Penginjil Lukas juga menunjukkan beberapa keistimewaan Yohanes sebagai saksi Sang cahaya yakni Yesus Kristus. Pertama, Elisabet, ibu Yohanes adalah seorang yang mandul namun Allah memberkatinya dan ia pun mengandung pada masa tuanya. Semua orang bersukacita saat mendengar berita tentang kelahiran Yohanes Pembaptis.

Kedua, Zakharia, ayah Yohanes yang sementara dalam keadaan tak dapat berbicara mengalami kesembuhan dari sakitnya itu. Diceritakan bahwa ketika mereka hendak memberikan nama kepada bayi itu sesuai nama ayahnya, Elisabet dan Zakharia sependapat untuk memberi nama bayi itu Yohanes. Menarik bahwa ketika Zakharia hendak memberikan nama kepada anak itu dengan menulis di batu, seketika itu juga ia dapat berbicara dan memuji Allah. Semua orang yang mengalami peristiwa itu menjadi heran, ketakutan, merenungkannya dan berkata; “menjadi apakah anak ini nanti? Sebab tangan Tuhan menyertai dia”.

Ketiga, Lukas memberikan sebuah penegasan bahwa Yohanes pun makin besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai saat ia harus mewartakan Penyelamat umat manusia. Allah senantiasa menyertai Yohanes dan mempersiapkan dia untuk sebuah misi mewartakan pertobatan serta pembaptisan.

Secara khusus kita diajak untuk meneladani St. Yohanes Pembaptis yang hari kelahirannya kita rayakan. Kita diajak untuk senantiasa mampu mewartakan Yesus Sang anak Domba Allah. Sama seperti Yohanes Pembaptis yang dengan kerendahan hatinya berkata: “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasutnya pun aku tidak layak”. Kiranya, kita menjadi lebih rendah hati untuk menerima rahmat Allah sehingga kita dapat mewartakan kasih Kristus bagi sesama dalam kehidupan kita setiap hari.

(Primus Agustinus Niunifaat)

“Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan memuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Luk. 3:16).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah aku untuk mampu mewartakan karya keselamatan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini