“Panggilan dan Hidup Kekal”: Renungan, Kamis 9 Mei 2019

0
1973

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis.  8:26-40; Mzm. 66:8-9,16-17,20; Yoh. 6:44-51

“Tahu” dan “Kenal” adalah dua kata yang nyaris memiliki arti yang sama. Terkadang  banyak orang terjebak di dalam penggunaan dua kata ini baik dalam berkomunikasi entah itu secara lisan atau tulisan. Orang sering berkata “saya mengenal dia” tapi juga ada yang berkata “saya tahu dia”. Pertanyaannya apakah dengan mengetahui saja kita dapat mengenal seseorang entah sikap, tindakan, pikiran dan tutur katanya? Sebenarnya tidak juga, tahu belum tentu kenal.

Bacaan hari ini memperkenalkan tiga tokoh yang memiliki pengenalan akan Allah. Tokoh yang pertama adalah Yesus Sang pemberi hidup kekal itu. Kedekatan dan pengenalan Yesus akan Bapa-Nya bukan lagi menjadi milik-Nya sendiri. Dia membagikan pengenalan akan Bapa kepada setiap orang yang mau dengan tegas dan berani meninggalkan segalanya dan menerima pengajaran serta menjadi anak-anak Allah.

Sebagai Anak yang mengenal Bapa-Nya, Yesus dengan jelas memberi tawaran kepada manusia untuk lebih dekat dengan Bapa lewat kesaksian hidup. Panggilan untuk mengenal berarti mau membuka diri bagi Allah dan Kristus, Sang pemberi hidup kekal dan roti hidup. Tak ada seorang pun dapat membuka dirinya tanpa meninggalkan segalanya dan kemudian percaya.

Tokoh yang kedua adalah Filipus. Pengenalan Filipus akan Sang Putra membawanya juga kepada pengenalan akan Bapa yang berbelas kasih. Tanpa pengenalan, Filipus tak dapat menerima panggilan dari Yesus dan sama sekali tak dapat mewartakan kabar gembira kepada sida-sida Ethiopia dan setiap orang di Asdod hingga Kaesarea. Mengalami panggilan untuk mengenal Tuhan berarti membawa konsekuensi bagi setiap orang untuk bersaksi sehingga dapat membawa keselamatan bagi orang lain.

Tokoh yang ketiga adalah sida-sida dari Ethiopia. Sikap dan motivasinya untuk bertanya kepada Filipus berangkat dari keingin-tahuan dan mau mengenal siapakah seekor domba dalam kitab nabi Yesaya. Roh kudus menjadi pendorong munculnya dua hal tadi, yaitu ingin tahu tapi bukan sekedar tahu namun mau mengenal serta menjadi saksi Injil dengan meminta diri untuk dibaptis.

Keselamatan ditawarkan Bapa kepada manusia dan menjadi nyata dalam diri Yesus. Para rasul menjadi orang-orang yang mau berjuang supaya rantai keselamatan itu tidak putus tapi berlanjut hingga hari ini. Orang yang mengenal Dia percaya dan akan mengalami keselamatan yaitu kebangkitan pada akhir zaman. Sekarang, sudahkah semua pengenalan akan Tuhan membawa kita kepada keselamatan?

(Fr. Joctaf Geres)

“Akulah roti hidup” (Yoh. 6:48)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku agar layak membawa keselamatan-Mu bagi sesamaku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini