“Ekaristi Sebagai Pusat”: Renungan, Selasa 7 Mei 2019

0
1920

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 7:51-8:1a; Mzm. 31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh. 6:30-35.

Makan-minum adalah kegiatan yang dilakukan manusia setiap hari dalam menunjang dan mempertahankan kehidupannya. Selain makanan jasmani kita juga membutuhkan makanan rohani. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk melihat betapa pentingnya kebutuhan makanan jasmani dan rohani.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang mengharapkan agar para pengikut-Nya melihat bahwa kedatangan-Nya ke dunia untuk memberikan kehidupan kekal. Alasan itulah yang mendorong Yesus untuk mengajarkan kepada mereka apa yang seharusnya dicari oleh manusia.  Yesus menegaskan, “Akulah Roti Hidup”.

Penegasan itu memberi arti bahwa selain makanan jasmani, hendaklah manusia mencari makanan rohani. Perkataan ini juga terarah pada pusat hidup orang Katolik, yakni Ekaristi. Apa yang dikatakan Yesus kepada orang banyak di dalam Injil, sudah mulai menggambarkan apa yang menjadi tujuan Yesus di dunia ini, yaitu menyelamatkan umat manusia.

Dalam bacaan pertama hari ini, ditampilkan juga pemberian diri yang utuh dan tulus dari St. Stefanus, Martir Pertama. Keteguhan imannya, ketaatannya terhadap perintah Tuhan, membuatnya tidak takut akan kematian.

Di dalam penderitaan, siksaan, bahaya maut, Stefanus masih memiliki belaskasih untuk mengampuni. Pemberian dirinya juga mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, dimana di akhir hidupya ia mengamalkan perintah Yesus yaitu mendoakan musuh-musuhnya.

Di dalam Ekaristi, Yesus menyerahkan diri-Nya sebagai makanan rohani yang menguatkan jiwa manusia. Penyerahan diri Yesus adalah ungkapan bahwa Ia adalah makanan yang menjamin keselamatan yang diberikan Bapa kepada manusia.

Oleh karena itu, Ekaristi adalah bagian yang penting bagi orang Katolik. Ekaristi mengingatkan kembali manusia pada peristiwa kehadiran Yesus saat melakukan perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya.

Meneladani Kristus yang memberikan diri-Nya sebagai santapan yang menghidupkan dan menyelamatkan bagi orang lain dan juga St. Stefanus yang dengan keteguhan imannya rela mati demi Kristus, kita diajak untuk memberikan diri kita.

Pemberian diri dalam zaman ini dapat terjadi tanpa menjadi martir berdarah. Melihat saudara kita yang membutuhkan dan memberi bantuan kecil sekalipun adalah tindakan seorang martir. Yang paling penting yaitu tindakan itu muncul dari lubuk hati kita yang paling dalam sehingga semakin banyak orang yang akan mengalami kasih dan kerahiman Allah.

(Fr. Andris Sumigar)

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35)

Marilah berdoa:

Ya Kristus, ajarlah aku agar mampu memberikan diri secara tulus seturut kehendak-Mu untuk melayani sesama dengan cinta kasih. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini