Hari Biasa Pekan II Paskah
Kis. 4:32-27; Mzm. 93: 1ab, 1c-2, 5; Yoh. 3:7-15
Hidup dalam prinsip keliru membuat seseorang sulit untuk menerima pendapat orang lain bahkan ulasan atau pengajaran dari orang lain. Prinsip keliru yang sudah dihayati dalam kehidupan sehari-hari akan membuat seseorang tetap mempertahankan pandangannya sendiri yang salah dan tidak terbuka pada pandangan yang lain. Pendapat orang lain yang tidak sesuai akan ditolak. Satu-satunya yang benar yaitu apa yang diyakininya.
Injil hari ini berkisah tentang percakapan Nikodemus dengan Yesus. Pribadi Nikodemus ditampilkan sebagai pribadi yang keliru, karena tidak memahami apa yang diajarkan oleh Yesus. Sebab ia masih memegang prinsip keyahudiannya dan tidak menerima gagasan atau pengajaran yang sampaikan oleh Yesus dalam dialognya perihal kelahiran baru.
Untuk mengerti ajaran yang disampaikan oleh Yesus diperlukan keterbukaan hati untuk mau mendengarkan dan menerimanya. Yesus membutuhkan keterbukaan hati dari Nikodemus untuk menerima dan memahami yang dikatakan oleh Yesus. Ia harus membuka cara pandang yang baru dan positif dengan lebih dahulu menanggalkan pemahaman yang keliru yang dihayatinya itu untuk beralih pada hal yang lebih mencerahkan yakni kelahiran baru.
Terkadang dalam kehidupan kita sehari-hari, kita masih memegang teguh prinsip keliru dengan tidak mau menerima pendapat orang lain, karena pendapat tersebut tidak sejalan dengan pendapat kita. Hal ini membuat kita menjadi orang yang egois, tidak mau mendangar dan menerima pandangan orang lain. Kita mengangap pemahaman kitalah yang paling benar.
Hari ini Yesus mengajak kita untuk membuka hati guna menerima apa yang disabdakan oleh Yesus dalam bacaan Injil. Sehingga kita dapat memahami apa yang dikatan oleh Yesus. Keterbukaan hati membuat sapaan dan pengajaran Yesus mudah diresapi dan dipahami. Keterbukaan hati juga membuat kita bisa menerima orang lain yang beda suku, agama serta menerima pendapatnya.
Keterbukaan hati sangat penting untuk dimiliki setiap orang. Karena atas cara itu kita dimampukan untuk membaharui diri, sehingga kita tidak mudah salah paham. Sebab dengan keterbukaan hati, kita mengarahkan pandangan dan kepercayaan kita pada kebaharuan iman lewat tindakan kasih untuk saling menerima, menghargai dan menghormati, sekalipun mereka yang bertolak belakang dengan kita.
(Fr. Damianus Batlayeri)
« Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah » (Yoh. 3:5).
Marilah berdoa:
Ya Bapa, mampukanlah kami untuk dapat membuka hati menerima Sabda-Mu, agar dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan tetap setia kepada-Mu. Amin











