“Tidak Melihat Namun Percaya”: Renungan, Minggu 28 April 2019

0
1923

Hari Minggu Paskah II (P) Oktaf Paskah-Minggu Kerahiman Ilahi

Kis. 5:12-16; Mzm. 118:2-4, 22-23, 25-27; Why. 1:9-11a, 12-13, 17-19; Yoh. 20:19-31.

Jatuhnya manusia ke dalam dosa membawa dampak yang luar biasa terhadap kehidupannya. Penderitaan, konflik berkepanjangan, kebencian dan dendam yang merajalela, direndahkannya martabat manusia, bahkan kematian, tak dapat dielakkan lagi. Akar dari semuanya itu adalah dosa-dosa manusia. Dalam situasi yang demikian, Allah kemudian tidak tinggal diam. Allah menunjukkan kerahiman-Nya untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka.

Inti dari kerahiman yang ditunjukkan oleh Allah adalah pengampunan dan kasih. Allah ingin melepaskan manusia dari penderitaan yang dialaminya. Kerahiman Allah yang ditunjukkan lewat pengampunan terwujud dalam diri Kristus. Melalui Kristus, Allah telah menebus dosa-dosa manusia.  Karena itu, dalam Injil, Yesus juga memberi kuasa kepada para rasul untuk mengampuni dosa. “Seperti Bapa telah mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu, terimalah Roh Kudus, bila kamu mengampuni dosa orang, dosanya akan diampuni”.

Yesus ingin agar pengampunan dan kasih Allah itu bisa dirasakan oleh manusia, bukan hanya melalui diri-Nya melainkan juga melalui para murid-Nya. Sehingga, kuasa untuk mengampuni dan menunjukkan kasih Allah, diberikan-Nya juga kepada para murid-Nya. Dan itulah yang diwujudnyatakan oleh para Rasul dalam bacaan pertama. Mereka mewujudnyatakan kasih Allah melalui perbuatan mukjizat menyembuhkan orang. Semua orang yang sakit, yang datang kepada para murid, mengalami kasih Allah dan semuanya disembuhkan. Melalui diri Yesus, nyatalah kerahiman Allah. Dan melalui diri-Nyalah, kasih dan pengampunan Allah untuk manusia dinyatakan. Meskipun demikian, kerahiman Allah itu hanya dapat dirasakan dan dialami oleh mereka yang percaya. Orang hanya dapat mengalami pengampunan dan kasih, bila benar-benar percaya pada Kristus.

Pergumulan dan pengalaman iman Thomas, bisa juga menjadi gambaran pergumulan dan pengalaman iman setiap manusia. Kadangkala, secara manusiawi kita memerlukan tanda-tanda fisik untuk percaya akan pengampunan dan kasih Allah. Apalagi pada saat mengalami penderitaan yang berkepanjangan, ketidakbahagiaan, dst. Pada saat itulah iman kepercayaan manusia kepada Tuhan diuji.

Namun, melalui peristiwa kerahiman ilahi ini, kita sadar bahwa iman kepercayaan kepada Tuhan tidak selalu membutuhkan tanda-tanda fisik. Bila kita percaya, maka kita akan mengalami bahwa Allah akan selalu melindungi, menghidupi, menjaga, menghangatkan bahkan memberikan pertumbuhan dalam diri kita. Kita harus terlebih dahulu mengalami kasih dan pengampunan-Nya, sebelum kita menjadi rasul-rasul kerahiman ilahi, yang mewartakan kasih dan pengampunan Allah.

(Redaksi Lentera Jiwa)

“Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:22).

Marilah berdoa:

Semoga kami selalu mengalami kasih dan pengampunan-Mu, ya Tuhan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini