“Siapkah kita berubah?”: Renungan, Sabtu 6 April 2019

0
1726

 Hari Biasa Pekan IV Prapaskah (U)

Yer. 11:18-20; Mzm. 7:2-3, 9bc-10,11-12;Yoh. 7:40-53

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap berani menolong orang lain adalah satu hal yang sulit untuk dilakukan. Menolong orang yang sedang diejek atau dicela adalah hal yang cukup berat. Terkadang, kita hanya memilih berdiam diri dan tidak mau ambil pusing. Kita pasti takut bahwa nantinya kita pun akan diejek atau dicela oleh teman-teman yang lain. Memang, tak dapat dipungkiri bahwa berani untuk membela kebenaran bukan suatu hal yang mudah, sebab butuh perjuangan untuk melakukannya.

Bacaan Injil hari ini menampilkan tokoh  Nikodemus. Ia adalah salah seorang dari kaum Farisi. Ia adalah orang yang sangat berani. Keberaniannya terbukti, saat Nikodemus berdiri di depan teman-temannya, yakni para Imam Kepala dan kaum Farisi untuk membela Yesus. Nikodemus berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?”.

Darimana datangnya keberanian Nikodemus? Keberaniannya didapat saat berjumpa dengan Yesus. Hal ini terjadi karena ia telah melihat tindakan mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus. Pertanyaan Nikodemus serentak mengkritik para imam kepala dan kaum Farisi yang dengan bebas memberi hukuman kepada orang lain tanpa mendengarkan kesaksian orang itu. Mereka menunjukkan sikap ketidakadilan dalam menjalankan hukum Taurat.  Mereka adalah orang yang munafik karena mematuhi hukum Taurat padahal tindakan mereka tidak sesuai hukum Taurat.

Berubah dalam kehidupan amatlah penting. Nikodemus yang dulunya takut bercakap-cakap dengan Yesus karena ia adalah kaum Farisi dan salah satu pemimpin agama, menjadi berani setelah berjumpa dengan Yesus. Ia menjadi begitu berani dalam membela kebenaran. Bagaimana dengan kita? Dari kisah ini, kita diajarkan untuk berani berubah dalam menjalani kehidupan. Kita harus siap dan berani untuk bersaksi tentang Yesus yang wafat dan bangkit demi umat manusia. Keberanian harus menjadi sikap hidup dari umat beriman.

 (Fr. Bryan Resubun)

“Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” (Yoh. 7:51).

Marilah Berdoa:

Ya Yesus, buatlah kami berani bersaksi tentang-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini