“Tidak Dapat Mati”: Renungan, Sabtu 24 November 2018

0
1790

Pw S. Andreas Dũng Lac, ImdkkMrt (M)

Why. 11:4-12; Mzm. 144:1,2,9-10; Luk. 20:27-40

Dewasa ini banyak orang bertanya apakah ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini? Sebagai orang beriman kristiani, kita percaya bahwa masih ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini. Kehidupan yang dimaksud ialah kehidupan kekal di surga setelah kematian. Kematian menjadi awal dari kehidupan kekal di surga yang ditandai dengan kabangkitan. Kebangkitan berarti orang dipermuliakan oleh Allah sendiri dengan roh-Nya sebagai suatu persekutuan yang intim. Itu semua telah dijelaskan dalam bacaan hari ini.

Bacaan pertama mengatakan bahwa Allah memberikan roh kehidupan kepada kedua nabi setelah kematian. Karena mereka telah membawa kebenaran Injil dan dengan setia mengecam dosa orang Sodom dan Mesir. Mereka pun dibangkitkan oleh Allah sendiri dengan suara yang nyaring dari surga dengan berkata: “Naiklah ke mari! Lalu mereka ke langit, diselubungi awan”.

Kehidupan setelah kematian ditegaskan lagi oleh Yesus dalam bacaan Injil. Dikisahkan bahwa orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan datang kepada Yesus. Mereka tahu bahwa Yesus percaya pada kehidupan setelah kematian. Mereka mengajukan pertanyaan yang bertujuan menyudutkan Yesus di depan banyak orang dan ingin membuktikan bahwa kehidupan setelah kematian itu tidak ada. Pertanyaan mereka berhubungan dengan seorang perempuan yang pernah menikah dengan tujuh bersaudara. Lalu, siapakah yang di antara orang-orang itu menjadi suaminya pada hari kebangkitan?

Yesus mengetahui maksud mereka. Yesus menjelaskan bahwa kehidupan kekal berbeda dengan kehidupan di dunia. Kehidupan kekal itu bermula dari kebangkitan yang telah dimuliakan oleh Allah sendiri. Sehingga hidup itu bersifat kekal dan tak dapat mati. Karena itu dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak perlu lagi orang kawin dan tidak dikawinkan.

Yesus juga mengingatkan pernyataan Allah kepada Musa mengenai diri-Nya bahwa Ia disebut Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Jika hidup berakhir hanya sampai kematian, Allah tidak akan menyebut diri-Nya sebagai Allah mereka. Karena Ia adalah Allah orang hidup dan di hadapan-Nya semua orang hidup. Mungkin kita bisa bermenung dan bertanya: Apakah kebangkitan dan hidup kekal yang Tuhan berikan sungguh-sungguh kita rindukan? Sudahkah kita mengusahakannya?

(Fr. Marcelino William Jansen)

“Karena mereka telah dibangkitkan” (Luk.20:36c)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku mengusahakan dan merindukan hidup yang kekal. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini