Hari Biasa (H)
Tit. 3:1-7; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Luk. 17:11-19
Ungkapan terima kasih merupakan rasa terdalam yang ada dalam diri setiap manusia. Mengucapkan terima kasih hendak mengungkapkan bahwa ia tidak dapat hidup tanpa orang lain. Orang yang tahu berterimakasih menerima kekurangan, kelemahan diri dan mengakui mereka yang memberi bantuan.
Berterimakasih kepada orang lain terlihat sederhana. Namun, ada banyak orang sulit melakukannya. Alasannya karena orang merasa gengsi atau malu. Sebagai orang beriman, kita harus menyadari bahwa dalam hidup, kita selalu berelasi dengan Allah dan sesama. Dalam relasi inilah kita diajak untuk melihat diri kita sebagai orang yang tahu bersyukur atau tidak.
Melalui Injil hari ini, kita belajar dari seorang Samaria yang dengan rendah hati, kembali untuk bersyukur dan memuliakan Allah karena mukjizat Yesus yang dialaminya. Dikisahkan bahwa, Yesus menyembuhkan kesepuluh orang Kusta yang meminta belas kasihan-Nya. Dalam masyarakat Yahudi, penderita kusta dianggap sebagai orang-orang berdosa yang mendapat kutukan dari Allah. Kehidupan mereka sangatlah menderita, sebab selain sakit kusta yang mereka alami, mereka juga diasingkan dari kehidupan bersama.
Ketika para penderita kusta mengetahui bahwa Yesus ada di perbatasan Samaria dan Galilea, mereka dengan berani berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”. Yesus memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam”. Dalam perjalanan, kesepuluh orang kusta menjadi tahir. Tetapi, yang berani kembali untuk mengucap syukur dengan memuliakan Allah hanyalah seorang Samaria. Sedangkan, yang sembilan orang lain tidak.
Tindakan orang Samaria ini mungkin terlihat sederhana. Namun anehnya, yang sembilan orang lainnya tidak dapat melakukannya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ungkapan terimakasih atas rahmat Tuhan lahir dari kesadaran iman yang sangat besar dan mendalam dari seorang Samaria. Yesus sendiri menegaskan kepadanya: “Imanmu telah menyelamatkan engkau”.
Iman akan Yesus Kristus seharusnya membuat kita sadar bahwa rahmat dan kasih karunia Allah selalu diberikan kepada kita. Entah itu berasal dari Allah secara langsung, pun lewat sesama manusia. Kesadaran iman inilah yang mendorong kita, untuk berani bersykur dan berterimakasih kepada Allah dan sesama kita yang telah membantu. Iman akan Yesus Kristus dapat diwujudkan dengan berani mengucap syukur seperti seorang Samaria. Janganlah menjadi orang yang tidak tahu bersyukur seperti kesembilan orang kusta lainnya. Sudahkah kita bersyukur dan berterimakasih?
( Fr. Damianus Daga )
”Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk. 17: 19).
Marilah berdoa:
Tuhan, semoga kami selalu mau bersyukur dan berterimakasih kepada-Mu. Amin.











