“Bersyukur Kunci Kebahagiaan”: Renungan, Sabtu 10 November 2018

0
2752

Pw S. Leo Agung, Paus Pujangga Gereja (P).

Flp. 4:10-19; Mzm. 112:1-2,5-6,8a,9; Luk. 16:9-15.

Bacaan-bacaan hari ini menekankan satu hal penting dalam hidup yakni “bersyukur”, yang harus selalu diungkapkan dari diri setiap orang beriman. Bersyukur menjadi sikap setiap orang beriman dalam segala hal baik di saat berkelebihan, berkecukupan bahkan berkekurangan. Bersyukur bukan hanya berterima kasih soal apa yang kita miliki dan terima, melainkan apa yang kita alami di saat sedih, berdukacita, atau kecewa. Sebab bersyukur yang didasari oleh iman membawa setiap orang pada cara pandang bahwa apa yang kita miliki dan alami adalah pemberian Tuhan semata untuk dijaga, dipelihara dan  dipergunakan dengan baik seturut kehendak Tuhan.

Dunia dewasa ini kurang peka untuk merasakan kasih dan berkat dari sesamanya. Karena dunia sekarang terperangkap pada sikap mengeluh, bersaing dan curiga pada sesamanya. Efeknya adalah ketidakpuasan dan iri hati terhadap sesama. Sehingga sulit untuk melihat sesama sebagai saudara dan sumber berkat bagi kita. Di samping itu ketidakpuasan menjadikan setiap orang beriman terus mencari dan mencari sesuatu yang memuaskan hasratnya. Sebaliknya, orang yang tahu bersyukur merasa puas dengan apa yang mereka miliki dan memandangnya sebagai pemberian yang harus dibagikan.

Korupsi dan tindakan yang menyimpang lainnya yang terjadi di negara atau daerah kita merupakan bentuk nyata dari orang-orang yang tidak tahu bersyukur. Mereka tidak merasa puas dengan gaji, insentif dan uang jalan yang diterima setiap hari atau setiap bulan. Mereka tidak pernah merasa kenyang walaupun baru selesai makan, mereka tidak pernah puas dahaganya walaupun baru selesai minum. Bahkan  mereka dengan cara apapun akan menjadikan sesama sebagai sarana mencari keuntungan dan kepuasan.

Santo Paulus dalam bacaan hari ini juga mengajak kita semua untuk belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Orang yang merasa cukup adalah orang yang tahu bersyukur karena mereka yakin bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Yesus Kristus. Dalam arti itu, Santo Paulus bukan berarti mau membatasi kita untuk berjuang dan berusaha mendapatkan sesuatu yang kita inginkan demi kebahagiaan,  melainkan apa yang kita usahakan hendaknya seturut kehendak Allah, tidak merugikan atau mengorbankan orang lain demi kepentingan kita. Sebaliknya apa yang kita miliki haruslah dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan.

(Fr. Loiz Wazi)

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4: 13).

Marilah berdoa:

Ya Allah yang Mahamurah, ajarlah kami untuk selalu bersyukur. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini