Hari Minggu Biasa XXIX (H) (Hari Minggu Misi Sedunia)
E KemSyah. BcE Yes. 53:10-11;Mzm. 33:4-5,18-19,20,22; Ibr. 4:14-16; Mrk. 10:35-45 (Mrk. 10:42-45).
Ketika mengumumkan penetapan Hari Minggu Misi Sedunia 2018, pada bulan Mei yang lalu, Paus Fransiskus mengatakan bahwa kita semua pelaku misi Gereja. Tiada seorangpun yang tak sanggup ambil bagian dalam karya mulia ini. Penegasan ini ternyata bersinergi dengan semangat pendiri Serikat Kepausan untuk Pengembangan Iman, Pauline Marie Jaricot (1799 – 1862). Pauline adalah seorang gadis belia Perancis yang dalam situasi sakitnya, berefleksi tentang karya luhur dan mulia membantu karya misi Gereja Universal.
Karya mulia Pauline ini kemudian diteguhkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1926, yang menetapkan hari minggu missi sedunia. Semangat misioner ini hingga kini terus digalakkan dalam ragam karya missioner dan dirayakan pada bulan Oktober. Sejalan dengan itu, Paus Fransiskus menetapkan tgl 3 – 28 Oktober 2018 sebagai hari – hari refleksi Orang Muda Katolik di Roma dengan tema: Young People, the Faith and Vocational Discernment (orang muda, iman dan penelaan panggilan). Kiranya melalui perhelatan ini, orang muda Katolik seluruh dunia memiliki semangat iman dan cinta seperti visi Pauline yang bertajuk: “Bila aku dapat mencintai, aku mencintai tanpa syarat, tanpa batas waktu”.
Cinta dalam karya missioner Gereja adalah cinta tanpa syarat dan tanpa batas waktu. Cinta ini bersumber pada cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Dunia harus ditolong untuk keluar dari jalan buntu persoalan yang melilit hidup manusia, seperti perang, kemiskinan, kebodohan dan sikap anti kemanusiaan. Gereja hadir sebagai kabar gembira bagi dunia karena Gereja tidak dapat mengingkari identitasnya sebagai pewarta cinta kasih Allah bagi dunia. Gereja hadir dan berkarya sebagai instrumen kebaikan dan kemurahan hati Allah bagi semua orang (bdk. EN, no.14).
Berbarengan dengan semangat ini, bacaan-bacaan Kitab Suci pada Minggu ke-29 ini menuntun kita untuk menaruh cinta dan perhatian kepada karya misi Gereja bagi semua orang di seluruh dunia. Sikap injili yang harus dimiliki adalah pelayanan tanpa syarat, sama seperti Kristus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.
Sikap cinta tanpa pamrih bersumber pada cinta, yang oleh nabi Yesaya dalam bacaan pertama dilukiskan dengan sebutan cinta seorang Hamba Allah yang berhikmat dan memikul kejahatan manusia. Kemudian, diperjelas oleh penulis kitab Ibrani, “bahwa hamba Allah itu adalah seorang Imam Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus Kristus, Anak Allah” (Ibr. 4: 14). Semoga dengan minggu misi ini hati kita dikobarkan untuk melayani sesama dengan lebih setia.
(Pst. Yonas Atjas, Pr)
“Dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” ( Mrk. 10:44).
Marilah berdoa:
Allah yang kekal, berkatilah Gereja-Mu agar melalui minggu misi ini, semakin banyak jiwa dilayani dan dihantar kepada persekutuan dengan Kristus, sang Juruselamat. Demi Kristus Tuhan kami, Amin.











