Hari Biasa (H)
Gal. 3:1-5; MT. Luk. 1:69-70,71-72,73-75; Luk. 11:5-13
Kesempurnaan hidup dapat diperoleh manusia ketika ia mengerti dan menyadari bahwa dirinya dibutuhkan dan membutuhkan orang lain. Hal ini dikarenakan bahwa manusia diciptakan Tuhan untuk berbagi kasih dan kabar gembira-Nya ke dalam hidup orang lain dengan pemberian diri yang tulus seturut dengan Kristus sendiri, Sang pemberi hidup sejati.
Seturut dengan pemberian diri itu, bacaan-bacaan hari ini mengisahkan tentang Sang pemberi hidup, yakni Allah, yang dari pada-Nya segala sesuatu bereksistensi. Bacaan pertama yang ditujukan kepada jemaat di Galatia, hendak menggambarkan tentang nasehat untuk tidak mengandalkan hal lain selain Kristus yang telah memesonakan umat manusia lewat salib dan kebangkitan-Nya. Bacaan injil lebih eksplisit mengisahkan tentang bagaimana memperoleh berkat Tuhan kalau tidak dengan iman dan pengharapan. Mintalah maka akan diberikan; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu (Luk. 11:9).
Peristiwa iman di atas menunjukkan beberapa hal yang patut direfleksikan. Pertama, mengenal Tuhan sebagai sang pemberi hidup. Artinya sadar akan kuasa Allah yang selalu hadir dalam kehidupan kita, baik dalam suka maupun duka. Karena itu Ia berkata bahwa mintalah kepada Bapa di sorga yang empunya langit untuk diberikan-Nya kepadamu berkat dan rezeki setiap hari.
Kedua, pemberian yang tulus. Pemberian diri yang tulus kepada orang lain mengindikasikan bahwa kita memberi dari apa yang kita miliki, tanpa melihat perbedaan dan keterbatasan dari dalam diri kita. Karena itu kita mesti keluar dari diri kita sendiri, sebagai bentuk dasar dalam memberikan apa yang kita miliki kepada orang lain. Dan ketika kita memberikan apa yang ada dari hidup kita, kita menyalurkan berkat bagi orang lain seperti Bapa di Surga.
Kita membagikan apa yang ada dari kita, untuk orang lain; seperti membagi pengalaman bersama orang lain, memberi bantuan kepada orang yang berkekurangan. Ini adalah bagian dari hidup yang sempurna. Karena hidup yang sempurna berawal dari pemberian diri yang berharga bagi orang lain.
Zaman sekarang banyak orang mengalami dampak buruk dari tahap belajar sendiri, usaha sendiri dan mengandalkan kemampuan sendiri. Konsekuensinya, mereka tak tahu siapa yang telah hadir dan ada dalam kehidupan mereka. Kunci dari segala sesuatu adalah berdoa dan meminta kepada-Nya sehingga kita akan dianugerahkan berkat dan bimbingan Roh kudus. Karena Tuhan tak pernah meninggalkan kita sendirian.
(Fr. Rafael Kelitadan)
“Mintalah maka akan diberikan; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk. 11:9)
Marilah berdoa:
Tuhan, jadikanlah aku penolong bagi orang lain. Amin.











