“Kabar Gembira”: Renungan, Kamis 4 Oktober 2018

0
3088

Peringatan Wajib S. Fransiskus dari Assisi (P)

Ayb. 19:21-27; Mzm. 27:7-8a,8b-9abc,13-14; Luk. 10:1-12

Pada Injil hari ini, Yesus  berfirman: “Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk.10:3). Perkataan ini keras dan mengusik hati. Adakah domba harus diutus ke dalam kumpulan serigala?

Yesus juga memerintahkan para pengikut-Nya untuk tidak tergantung pada sarana duniawi dalam pelayanan. “Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut” (Luk. 10:4). Lalu apa yang dapat menjadi kekuatan dalam perutusan? Yesus sendirilah yang harus menjadi kekuatan utama para pewarta. Yesus dalam kesatuan dengan Bapa menjanjikan penyertaan bagi para murid-Nya dalam tugas pelayanan mereka.

Santo Fransiskus dari Asisi yang kita peringati hari ini, telah menunjukkan teladan hidup dalam pelaksanaan pewartaan. Ia berani keluar dari zona nyaman untuk mewartakan Injil kepada orang-orang kusta. Status, harta, dan kesenangan ditinggalkannya untuk mewartakan Yesus kepada semua orang.

Banyak orang mengerti bahwa Injil adalah kabar gembira dan sukacita Allah yang menyelamatkan. Sukacita dan kegembiraan itu terwujud dalam diri dan kehadiran Yesus Kristus. Kepada siapa Warta Gembira tersebut disampaikan? Warta Gembira tentang keselamatan disampaikan bagi semua orang. Siapa yang semestinya mewartakan Kabar Sukacita tersebut? Tugas pewartaan ini diembankan kepada semua orang yang beriman kepada Yesus.

Inilah tugas dan perutusan para murid. Mereka diutus untuk membawa damai sejahtera bagi setiap orang. Berhadapan dengan berbagai persoalan dan tantangan dunia, tugas pewartaan ini tidaklah mudah. Adakalanya warta sukacita yang disampaikan mengalami penolakan. Namun, warta Injil harus diwartakan di tengah dinamika hidup manusia.

Dituntut keberanian sekaligus kegigihan dalam upaya pewartaan Kabar Sukacita Allah yang menyelamatkan. Pewartaan hendaknya terungkap dalam kesaksian hidup sebagai seorang beriman melalui sikap, kata, tindakan dan perbuatan kepada Allah dan sesama. Apakah hidup kita sudah sesuai dengan warta Kabar Gembira?

Injil hari ini mengamanatkan satu langkah praktis: “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai Sejahtera bagi rumah ini.” Dengan ini, Yesus mau membangun cara hidup: membawa damai ke mana pun kita pergi. Damai dan sukacita hendaknya terungkap dalam setiap perjumpaan dengan orang lain.

(Fr. Thimoty Tappi)

“Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: damai sejahtera bagi rumah ini” (Mat. 10:5).

Marilah berdoa :

Tuhan jadikanlah aku saksi-Mu dalam sikap hidupku sehari-hari, agar banyak orang dapat mengalami sukacita dan damai dari-Mu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini