Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, PrwPujG, Pld-Misi (P)
Ayb. 1:6-22; Mzm. 17:1,2-3,6-7; Luk. 9:46-50. atau: Yes. 66:10-14b atau 1Kor. 12:31 – 13:13; Mat. 18:1-4
Ada seorang pemuda yang sedang menuju ke tempat wawancara kerja. Ia menggunakan jasa taksi online. Sopirnya seorang bapak yang terlihat lincah dan terampil membawa kendaraan meski umurnya sudah tua. Dengan sabar ia berkomunikasi dengan pemuda itu dalam kemacetan yang panjang. Mereka bertukar pikiran mengenai pekerjaan ideal. Pada waktu itu mobil mogok dan karena berada di jalan yang macet dan padat, mobil tidak bisa ditarik oleh kendaraan bantuan. Sang pemuda ini menawarkan diri untuk mendorong mobil bapak ini. Akhirnya dengan penuh keringat ia tiba di tempat melamar dan mengikuti wawancara. Pada waktu selesai wawancara, ia dinyatakan lulus dan dapat bekerja di kantor itu. Ternyata kepala kantor itu adalah sopir taksi yang mogok tadi. Bapak itu telah mengetahui dan melihat semangat, komitmen pemuda ini untuk bekerja.
Dalam kehidupan ini, kadang kita merasa jengkel jika usaha kita tidak dihargai oleh orang lain. Sering juga kita meremehkan orang lain. Kita jatuh pada idealisme yang tinggi dan menganggap diri kita yang terbaik. Kita ingin diri sendiri menjadi pusat perhatian. Dan akhirnya melupakan tugas kita. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang rendah hati, pelayan kebaikan bagi orang lain. Kita adalah orang yang diberkati Tuhan. Maka kita harus menjadi berkat bagi orang lain.
Imbalan atas pekerjaan hanyalah bagian kecil dari diri. Kita jangan mementingkan keuntungan. Kita harus berkaca pada Ayub, yang tidak mementingkan harta milik dan kekuasaanya. Ayub yakin dan tahu bahwa segala yang di dunia adalah milik Tuhan. Tuhanlah yang memberikan semuanya kepada kita.
Yesus juga memberikan pesan agar kita menjadi seorang pelayan bagi sesama, dengan rendah hati melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita. Imbalan dan kekuasaan adalah hal kedua. Bagaikan seorang anak kecil yang belum tau apa-apa, yang masih polos, dan tidak mempunyai beban hidup. Melaksanakan perintah dan amanat dari Tuhan dapat dilakukan tanpa ada imbalan. Jika kita mementingkan imbalan dan kekuasaan, maka kita akan terjerumus dalam kesombongan dan ketergantungan pada hal-hal duniawi, sehingga kita merasa terganggu jika keinginan kita tidak terpenuhi.
(Fr. Rikcardo Woi)
“Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu” (Luk. 9:50).
Marilah berdoa:
Tuhan, bantulah aku menjadi pelayan-Mu yang setia. Amin











