“Kehendak Allah”: Renungan, Kamis 27 September 2018

0
2557

Pw S. Vinsensius a Paulo, Im (P).

Pkh. 1:2-11; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Luk. 9:7-9.

Pengkhotbah mengatakan bahwa segala sesuatu yang duniawi adalah sia-sia. Contoh dari sesuatu yang sia-sia itu seperti harta kekayaan. Banyak dari kita berusaha mati-matian untuk menjadi kaya dengan memperoleh jabatan yang tinggi, entah itu dilakukan dengan usaha yang benar maupun dengan usaha yang tidak benar. Ketika sudah menjadi kaya, mereka merasa puas dengan kekayaannya.

Tetapi ada juga yang belum puas dengan pencapaiannya tersebut. Maka tak heran jika mereka itu terus-menerus memperkaya diri. Kita sering menyebut orang-orang yang demikian sebagai ‘manusia gila harta’. Mungkin itulah prinsip hidup mereka. Waktu hidup semata-mata dihabiskan demi mancari uang. Tetapi hal yang jauh lebih penting adalah berusaha untuk memperoleh rahmat Tuhan, time is grace. Allah lebih menghendaki kita memperoleh rahmat dari-Nya daripada mencari harta kekayaan.

Lebih lanjut lagi Pengkhotbah mengatakan, “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi” (Pkh. 1:9). Apa yang Pengkhotbah katakan itu sama dengan perutusan orang-orang pilihan Allah, yang mewartakan Kerajaan Allah dan Kabar Gembira mulai dari zaman Perjanjian Lama kemudian Yohanes Pembaptis, Yesus Kristus yang adalah Tuhan sendiri, para Rasul sampai para imam di zaman sekarang.

Pewarta tersebut sudah ada dan akan ada lagi, dan apa yang mereka buat akan dibuat lagi selama Allah tetap menghendakinya. Hal tersebut persis seperti yang dikisahkan dalam Injil Lukas. Herodes heran mengapa masih ada karya seperti yang Yohanes Pembaptis lakukan di wilayah kekuasaannya, padahal ia telah membinasakan Yohanes dengan memenggal kepalanya.

Karena itu, Herodes merasa cemas. Apalagi ada yang mengatakan bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Mungkin Herodes merasa cemas karena takut kalau Yohanes bangkit untuk membalas dendam. Ternyata yang melakukan karya yang demikian adalah Yesus.

Saudara terkasih, hidup di dalam Allah menghasilkan kebahagiaan yang kekal. Takkan ada orang yang berhak merampas hal itu dari kita. Sebab, Allah telah mencetuskan keselamatan bagi orang yang berpegang teguh pada perintah-Nya. Maka dari itu, carilah sesuatu yang yang dapat mendatangkan rahmat dari Tuhan agar kehidupan kita tidak sia-sia di dunia ini.

(Fr. Ans Samandi)

“Kesia-sian belaka, kata pengkotbah, kesia-siaan belaka, Segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh. 1:2).

 Marilah berdoa:

Ya Allah, kuatkanlah iman kami untuk semakin menyadari apa yang Engkau kehendaki selama kami hidup di dunia yang terbatas ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini