Hari Biasa (H).
Ams.21:1-6, 10-13; Mzm. 119:1,27,30,34,35,44; Luk. 8:19-21
Kehidupan keluarga erat kaitannya dengan persaudaraan. Semua anggota keluarga disebut sebagai saudara, karena hidup dalam satu komunitas. Kehidupan komunitas yang dibangun dalam keluarga adalah mereka yang hidupnya saling mengasihi dan saling mencintai.
Kehidupan bersaudara tidak hanya dilihat dari hubungan biologis saja, tapi juga hubungan sosial. Persaudaraan sosial tampak nyata jika masyarakat hidup dalam cinta kasih. Kehidupan persaudaraan inilah yang ditekankan oleh Yesus, sebagaimana mereka yang telah mendengar dan mematuhi sabda-Nya.
Dalam bacaan Injil, Yesus menegaskan bahwa carilah sabda-Nya. Sebab sabda-Nya adalah pelita yang bercahaya menerangi setiap jalan kita. Karena itu, jangan pernah menutup telinga terhadap sabda Yesus. Untuk itu, carilah sabda Tuhan yang dapat memerdekakan kita. Sama seperti “ibu dan saudara-saudara Yesus yang datang kepada-Nya”. Sebab mereka yakin bahwa, hanya dengan Yesus mereka dapat memperoleh kehidupan.
Adapun saat ketika mereka tidak dapat menjumpai Yesus karena kerumunan orang banyak, menandakan bahwa dalam kehidupan kita ada begitu banyak masalah yang dapat membuat kita jauh dari-Nya sehingga kita tidak bisa mendapatkan Yesus. Maka banyak orang giat membaca dan mendengarkan sabda Yesus yang bisa menjamin kehidupan kekal dalam Kerajaan Surga.
Pengalaman lain ketika orang-orang memberitahukan kepada Yesus bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya ada di luar, hendak mengungkapkan bahwa ketika kita sudah menjauh dari Tuhan, kita harus berdoa dan memohon kepada Tuhan. Agar Yesus memberikan jawaban melalui sabda-Nya, yang selalu memberikan peneguhan dalam menghadapi setiap masalah.
Ketegasan Yesus terungkap lewat kata-kata ini, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan Firman Allah dan melakukannya”. Ungkapan dari Yesus ini mengisyaratkan, jika kita ingin menjadi satu keluarga dengan-Nya, maka kita harus mendengarkan Firman-Nya dan melakukannya. Sebab dengan demikian, kita bisa hidup bersatu dengan Allah.
Yesus juga tidak bermaksud menghina ataupun menyangkal ibu dan saudara-saudara-Nya. Sebaliknya Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa yang melakukan kehendak Bapa-Nya adalah saudara-Nya. Maka yang Yesus ajarkan adalah keutamaan agar seseorang melakukan kehendak Allah. Sementara sikap yang ditunjukkan Yesus merupakan pujian kepada Bunda Maria. Ketaatan Maria kepada kehendak Bapa inilah yang menyatukannya dengan Kristus melebihi dari hubungan biologis. Untuk itu, Yesus mengatakan bahwa Bunda Maria layak untuk dihormati bukan saja karena ia telah melahirkan Yesus, tetapi juga karena ia pertama-tama menaati kehendak Allah.
(Fr. Joe Titirlolobi)
“Siapa menutup telinga bagi jeritan orang-orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru” (Ams. 21:13).
Marilah berdoa:
Tuhan, ajarilah kami untuk mendengarkan Firman-Mu. Amin.











